Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMENTUM Idul Fitri yang kerap dimanfaatkan untuk bersilaturahim membuat setiap keluarga berupaya menyajikan makanan terbaik untuk menyambut para tamu yang datang. Mulai dari kue-kue hingga makanan utama sajian khas Lebaran. Bagi warga Betawi, berbagai makanan khas wajib hadir sebagai sajian. Semisal kudapan, mulai dari dodol, jipang, geplak, kembang goyang, biji ketapang hingga rangginang wajib hadir di meja. Namun, belakangan ada perbedaan dalam sajian kudapan yang dihidangkan.
Sebagian kudapan yang disajikan bukan lagi dibuat dan disusun sendiri oleh sang pemilik rumah, melainkan sudah berganti toples-toples dan bungkusan bermerek toko. Membeli kudapan khas Betawi dinilai lebih praktis ketimbang membuat sendiri. Halimah, 31, warga Betawi Kampung Tanah Koja, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, misalnya. Ia memilih membeli kudapan khas Betawi itu ketimbang meracik di dapurnya. "(Kudapan) seperti dodol, kembang goyang, ya itu beli. Ditambah lagi kue-kue seperti nastar dan kastengel semuanya beli. Repot kalau mau bikin," ujarnya.
Padahal, nilai budaya guyub bagi warga Betawi saat menyambut Lebaran menjadi bagian penting untuk memperkuat ikatan kekerabatan. Nasroh, 35, warga Betawi Kampung Tanah Koja lainnya mengatakan dahulu warga Betawi mempersiapkan kudapan untuk Lebaran dengan cara guyub, dikerjakan bersama-sama dengan warga Betawi lainnya yang tinggal dalam satu kampung. Untuk dodol misalnya, kata dia, warga satu kampung biasanya membuat dodol dengan bergotong royong.
Mereka mengumpulkan uang untuk membeli bahan seperti ketan, gula merah, gula pasir, dan santan. Tidak hanya itu, dalam proses pengadukan dodol juga dilakukan dengan gotong royong bergantian. "Itu bisa tujuh sampai 10 kepala keluarga yang patungan, ngaduk dodol barengan pakai tungku dengan kayu bakar. Ngaduknya bisa seharian," jelasnya. Dodol hasil adukkan bersama itu kemudian dibagi rata ke warga yang ikut menyumbang. Sayangnya, tradisi itu sekarang makin sulit ditemui.
"Sekarang mungkin yang masih sering bikin sendiri itu kayak biji ketapang, rengginang, dan jipang. Itu juga buatnya masing-masing. Dulu mah kue seperti itu juga buatnya masih barengan," tuturnya. Saat melihat hal itu, pengamat budaya Betawi Tatang Hidayat menilai, selain faktor ingin praktis, ketersediaan lahan juga menjadi salah satu faktor melunturnya budaya guyub dalam membuat sajian Lebaran.
Padatnya permukiman di Jakarta membuat keterbatasan ruang untuk membuat kudapan seperti dodol Betawi. "Dodol itu kan pengasapan, ya. Jadi kurang ruang untuk membuat kudapan seperti dodol Betawi. Selain faktor praktis tadi, enggak mau repot, jadi beli saja cukup karena sudah banyak yang jual," terangnya.
Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi itu menuturkan, meski tradisi guyub itu mulai hilang, masih ada beberapa wilayah yang masih membuat kudapan seperti dodol dengan cara guyub. "Daerah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan masih ada beberapa kampung yang seperti itu. Makanya kami selalu internalisasi agar bisa menumbuhkan semangat pertahankan budaya. Pembentukan karakter itu bisa dilakukan dengan budaya," kata Tatang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved