Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TETAP menjaga tradisi makanan khas leluhur bukanlah hal mudah bagi Opsani, 52, warga Jalan Mawar, Rempoa, Jakarta Selatan. Apalagi, saat ini gempuran modifikasi makanan modern terus bermunculan dan menarik baik penampilan maupun rasa. Hanya, Oop, begitu sapaan bagi Opsani, memilih tetap mempertahankan makanan leluhur dari tanah kelahirannya setiap Lebaran.
Tentu saja tujuannya para keturunannya tetap mengenal warisan cita rasa kuliner nenek moyang mereka. Dari tahun ke tahun, bila hari raya tiba ia pun tetap menyuguhkan masakan yang biasa ibunya sajikan di rumah. Dari luar, suguhan Oop terlihat sama dengan suguhan Hari Raya Lebaran di rumah lainnya. Ada ketupat, sayur, semur, dan opor ayam. Hanya, bila dicicipi, rasa sayur ketupat Oop memang berbeda. Saat diciduk dari panci, di dalam kuah sayur ada potongan bunga tebu di dalamnya.
"Ini namanya sayur besan," kata Oop. Hidangan sayur besan, kata dia, sebetulnya identik dengan suguhan saat ada pesta hajatan. Namun, di tanah kelahirannya sayur tersebut menjadi kudapan andalan pendamping ketupat di hari raya. Di rumah adiknya di Jalan Depsos Raya, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesangrahan, Jakarta Selatan, Enci Ayanah, 50, masih mempertahankan suguhan kue Lebaran khas seperti rengginang dan kembang goyang.
Dua camilan itu menjadi pilihan favorit anak dan cucunya. "Stoples rengginang dan kembang goyang di rumah justru lebih cepat kosong meski ada nastar dan kue-kue modern lainnya," ujarnya sambil tertawa. Iqbal Musyafa, 26, warga Pejaten, Jakarta Selatan, tidak pernah absen menyajikan kudapan khas Betawi seperti rengginang, kembang goyang, biji ketapang, hingga dodol di rumahnya.
Kehadiran kudapan khas Betawi bagi Iqbal pun istimewa karena hanya lengkap di momen-momen tertentu, salah satunya Lebaran. Sebenarnya tidak ada yang istimewa pada penyajian kudapan khas Betawi di rumah Iqbal, hanya ditaruh di atas wadah berupa piring dan stoples. Namun, kehadiran kudapan Betawi itu lebih dari kebiasaan yang wajib ada setiap tahun.
Sebagian dibuat sendiri oleh keluarganya, sebagian lagi dibeli.
Salah satu kudapan yang dibuat keluarga Iqbal ialah kembang goyang. Bahan dan proses pembuatannya tergolong sederhana.
Dengan bermodalkan bahan dasar tepung terigu dan gula, adonan dibuat pada cetakan yang berbentuk seperti bunga atau kembang. Dinamakan kembang goyang karena harus digoyang-goyang untuk mengeluarkannya dari cetakan.
"Bikin kembang goyang enggak ribet. Jadi, keluarga mau bikin. Begitu juga dengan kolang-kaling. Bikinnya rame-rame sekalian ngumpul," ujarnya. Selain kudapan khas Betawi, di rumah Iqbal tersedia kudapan modern khas Lebaran lainnya seperti aneka jenis kue kering dan biskuit. Soal rasa, ia mengakui beberapa keponakannya yang masih berusia anak-anak lebih menggandrungi kudapan modern daripada yang khas Betawi.
Namun, bagi Iqbal pribadi, momen Lebaran justru harus dimanfaatkan untuk menikmati sajian Betawi. "Kalau kue kering atau biskuit, setiap hari juga ada. Tapi kalau makanan kayak kolang-kaling, kembang mayang, ini kan jarang-jarang ada. Paling pas Lebaran. Padahal, rasanya enak." Di rumah Dahlia, menu semur daging kerbau menjadi menu wajib khas Betawi setiap Lebaran. "Sudah dari dulu begitu. Tapi karena harganya lebih mahal (daripada daging sapi) dan lebih alot, orang lebih memilih daging sapi. Padahal, kalau orang Betawi, nyemurnya daging kerbau," ujarnya saat ditemui di kediamannya di Pondok Bahar, Ciledug, Kota Tangerang.
Dahlia mengaku tidak terlalu suka daging kerbau. Namun, ia memilih tetap memasak daging kerbau, selain buat melanjutkan tradisi satu tahun sekali, untuk mengenang almarhum suaminya. "Bapak suka sekali semur daging buatan saya. Tahun ini juga sama seperti tahun lalu sewaktu masih ada Bapak. Anggap saja biar Bapak di sana senang," ujarnya.
Tukar rantang
Di lain tempat, bagi masyarakat Betawi di bagian barat seperti di wilayah Duri Kosambi, beberapa rumah masih menyajikan hidangan dalam bentuk prasmanan. Kuliner khas seperti sayur asem, sambal terasi, jengkol, dan ikan asin serta beberapa lalapan tersaji di meja yang terpisah. Biasanya hidangan prasmanan itu disajikan saat mereka menjadi tuan rumah menyambut tamu dalam perayaan Lebaran. Warga Betawi yang tinggal di Duri Kosambi dan sekitarnya mempunyai tradisi Lebaran hingga tujuh hari.
Mereka saling berkunjung dan menjadi tuan rumah di hari yang berbeda yang sudah ditentukan. Tradisi lainnya yang masih terjaga di wilayah itu dalam perayaan Lebaran ialah tradisi tukar rantang. Tradisi itu dilakukan saat malam takbiran. Saat itu, warga sibuk membawa rantang yang berisikan makanan seperti semur daging, ketupat, opor, dan sambal untuk diberikan kepada orang yang dituakan dalam keluarga.
Nantinya, rantang tersebut akan diisi makanan kembali oleh orang yang dituakan dengan makanan yang mereka buat. "Itu semacam untuk menghormati para orang tua. Tradisi bawa rantang ke tetangga masing-masing juga biasanya dilakukan di malam takbiran," kata Nasroh, 35, warga Betawi Duri Kosambi. (Mal/Nic/Put/Beo/J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved