Terminal Pulogebang Mubazir

Nicky Aulia Widadio
05/7/2016 09:10
Terminal Pulogebang Mubazir
(ANTARA/Hafidz Mubarak A.)

SEJAK diresmikan pada 2012, Terminal Pulogebang masih belum juga difungsikan sebagai terminal terpadu untuk melayani para pemudik. Alhasil, pembangunan terminal yang diklaim sebagai terminal terluas dan terbesar di Asia Tenggara itu menjadi mubazir.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah mengakui terminal dengan bangunan empat lantai itu belum bisa difungsikan secara maksimal karena masih banyak kekurangan fasilitas pendukung.

"Padahal, biaya operasional Terminal Pulogebang hampir Rp400 juta per bulan. Kalau enggak digunakan secepatnya, sayang juga biaya sebesar itu," cetus Andri saat mendampingi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menginspeksi sejumlah terminal di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan catatannya, selama sepekan arus mudik, terminal itu hanya memberangkatkan 755 pemudik dengan 53 bus. Hal itu berbanding terbalik dengan Terminal Pulo Gadung yang setiap harinya memberangkatkan 100 hingga 120 bus yang melayani ke kota-kota tujuan di Sumatra, Jawa, hingga Nusa Tenggara Timur.

Saat blusukan di dalam Terminal Pulogebang, Ahok pun tak dapat menyembunyikan wajah kecewanya. "Terminal Pulogebang gedungnya bagus dan besar, tapi sepi banget. Penumpang malah memilih ke terminal yang jelek kayak di Pulo Gadung," kata Ahok sambil berkali-kali mengelap keringat yang menetes di dahinya.

Ketika mengunjungi ruang tunggu penumpang yang berada di lantai dua terminal, kemeja Ahok benar-benar dibuat basah oleh pengap dan panasnya suhu di ruang tunggu tersebut.

Menurut Kepala UP Terminal Pulogebang Nurhayati Sinaga, pihaknya belum punya anggaran untuk membeli freon mesin penyejuk ruangan yang sudah terpasang.

Dalam sebulan, operasional Terminal Pulogebang menghabiskan hingga Rp400 juta. Dana tersebut antara lain untuk membayar listrik Rp250 juta, air Rp3 juta, dan gaji untuk 50 staf operasional sebesar Rp168 juta.

Sejauh ini, baru 32 perusahaan otobus (PO) yang telah beroperasi di Terminal Pulogebang. Itu pun hanya menjadikan Pulogebang sebagai terminal transit.

"Di masa depan, Pemprov DKI akan memindahkan seluruh aktivitas di Terminal Pulo Gadung ke Pulogebang. Lahan Terminal Pulo Gadung akan dijadikan rumah susun pada 2017," kata Ahok.

Angkut tiga orang
Salah satu karyawan PO, Ari, mengeluhkan ketidaksiapan Terminal Pulogebang. Di hadapan Ahok, karyawan PO Bejeu itu mengatakan perusahaannya hanya memberangkatkan tiga penumpang dari terminal itu, kemarin.

"Kalau dari Terminal Pulogadung, PO saya bisa memberangkatkan paling sedikit 120 penumpang menuju Semarang dan Jepara, Jawa Tengah. Kalau dari Terminal Pulogebang, hanya tiga orang. Itu pun enggak setiap hari ada yang naik dari Pulogebang. Kalau dihitung-hitung, ya kita rugi beroperasi di sini," paparnya.(Nik/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya