Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBANTU rumah tangga cadangan atau biasa disebut pembantu infal menjadi pilihan kalangan pelajar untuk meraup rupiah. Ada Fira Aprilia, 16, pelajar kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dan Lailatul Putri, 20, mahasiswa psikologi hukum Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Mereka hanya dua contoh yang mau ditemui Media Indonesia di yayasan penyalur pembantu rumah tangga (PRT), di Jakarta. Bagi Fira, menjadi PRT infal merupakan keinginannya. Kebetulan liburan Idul Fitri bertepatan dengan libur sekolah. Sembari berlibur, ia berangkat ke Jakarta menjadi tenaga infal.
Fira datang dari Brebes bersama tiga teman sekampungnya. Ide menjadi tenaga infal berawal dari informasi yang disampaikan tetangganya di kampung. Lantaran baru pertama kali menjadi tenaga infal, Fira memilih bergabung dengan Yayasan Tiara Cipta agar ia mudah mendapatkan majikan. Ekonomi ialah alasan utama anak pertama dari tiga bersaudara itu menjadi tenaga infal. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot dan ibunya bekerja sebagai petani. Kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan membuat Fira berkeinginan meringankan beban orangtuanya. Dari hitung-hitungannya, orangtuanya harus mengeluarkan biaya Rp3 juta untuk biaya sekolahnya setiap tahun.
"Saya ingin membantu orangtua untuk biaya sekolah dan membeli barang keinginan sendiri," kilahnya merahasiakan barang apa yang diinginkannya. Keinginan Fira awalnya ditolak kedua orangtuanya sebab bertepatan dengan Lebaran. Kedua orangtuanya juga khawatir akan keselamatan buah hatinya. Berkali-kali ia harus membujuk orangtuanya hingga akhirnya diizinkan berangkat. "Awalnya enggak boleh, orangtua nanyain Bekerja di Jakarta, bagi gadis itu, jauh lebih menggiurkan daripada mencari pekerjaan sampingan di kampung halamannya.
Di Brebes, katanya, penghasilan pekerjaan sampingan tidak sebesar di Jakarta. "Di kampung paling kerja sampingan bantu-bantu jaga toko. Kerjanya dari pagi sampai malam, tapi dibayar cuma Rp500 ribu," ungkapnya. Sebaliknya, penghasilan yang didapat Fira dengan menjadi tenaga infal pengasuh anak ialah Rp200 ribu per hari.
Ia sudah dikontrak 10 hari. Perasaan waswas menghantui Fira menjelang dimulainya masa infal. Ia sadar dirinya tidak memiliki banyak pengalaman. Satu hal yang membuatnya cukup percaya diri ialah pengalamannya mengurus si adik bungsu.
"Ngurusin adik dari lahir sampai sekarang udah umur 3,5 tahun. Dia juga maunya sama saya soalnya kalau orangtua kan kerja," kata Fira. Di sisi lain, Lailatul Putri, 20, atau biasa disapa Putri, sudah ketiga kalinya mengorbankan momen Lebaran bersama keluarga untuk menjadi PRT infal. Gadis asal Blitar, Jawa imur, yang berkuliah di Universitas Brawijaya itu sengaja mencari tambahan uang untuk biaya kuliahnya. Putri sadar orangtuanya yang pedagang kecil di Blitar kesulitan membiayai kuliahnya. Namun, orangtuanya tidak pernah mengeluh.
Lantaran itu, sejak masuk jenjang perguruan tinggi, Putri pindah dan tinggal indekos di Malang. Sejak itu pula seluruh biaya hidup dan biaya kuliahnya ia tanggung sendiri. "Kebutuhan kuliah itu besar. Saya butuh tambahan dana, makanya saya ke Jakarta," ujar gadis yang berkuliah di jurusan psikologi hukum itu. Biasanya, mahasiswi semester 6 itu kerap diminta dosen-dosennya untuk membantu mengerjakan proyek mereka.
Dari situlah ia membiayai hidup dan kuliahnya sehari-hari, meski sesekali ia masih menghubungi orangtuanya untuk meminta suntikan dana walau sedikit. Putri terpikir untuk menjadi tenaga infal setelah mendapat informasi dari saudaranya yang telah lebih dulu bekerja di Yayasan Tiara Cipta. Awalnya kedua orangtua Putri keberatan dengan keputusan menjadi PRT infal ke Jakarta. Beruntung, ia bisa meyakinkan kedua orangtuanya.
"Sempat sedih, apalagi orangtua ingin kalau Lebaran sesekali kumpul. Tapi kalau ingat tujuan saya untuk biaya kuliah, saya langsung semangat lagi," lirih Putri. Meski belum pernah mengasuh anak, Putri mengaku ilmu kuliahnya sebagai mahasiswi psikologi cukup berguna untuk bekalnya menjadi pengasuh. Putri ialah orang yang menyukai anak-anak. "Pada dasarnya anak-anak itu enggak ada yang susah ditangani, yang penting kita paham karakter dan kesukaannya," jelasnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved