Kelangkaan Picu Vaksin Palsu

(Mut/MTVN/J-1)
25/6/2016 03:40
Kelangkaan Picu Vaksin Palsu
(Ilustrasi)

MENTERI Kesehatan Nila Farid Moeloek menyebut vaksin palsu yang beredar di masyarakat tidak akan berdampak buruk pada anak. Hanya, ia khawatir kesterilan vaksin palsu tersebut tidak bisa dijamin sehingga bisa menyebabkan reaksi negatif pada kulit. "Kita ingin lihat dulu isinya apa. Akan tetapi, yang saya dengar dari Bareskrim, dicurigai isinya itu cairan dan antibiotik. Kalau memang itu, dampaknya tidak terlalu besar karena bukan vaksin atau virus yang diberikan kepada anak. Yang kami khawatirkan ialah steril atau tidaknya vaksin, yang bisa menyebabkan reaksi di kulit," ujar Nila dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan Jakarta, Jumat (24/6).

Di kesempatan itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Aman Bhakti Pulungan menambahkan pembuatan vaksin harus dikerjakan secara steril, baik materi maupun wadah. Karena itu, dia menyarankan orangtua yang menemukan kejanggalan pada kulit bayi dan anak setelah diberi vaksin agar segera membawa anaknya ke dokter anak setempat. Aman mengatakan saat ini tengah terjadi kelangkaan sejumlah jenis vaksin. Ia menengarai para pemalsu vaksin itu menjadikan kelangkaan tersebut sebagai peluang membuat vaksin palsu.

"Contohnya vaksin Havrix untuk anak di atas dua tahun dan memang ada kelangkaan sekarang. Para pelaku melihat hukum pasar," beber Aman. Selain vaksin itu, sempat terjadi juga kelangkaan vaksin Pediacel yang berisi kombinasi HID dan olio. "Itu juga sempat langka dan ada kekosongan vaksin impor itu, tetapi kini sudah tersedia lagi. Pelaku ini benar-benar jeli melihat kebutuhan pasar," ujarnya.

Pemalsu lihai
Atas kasus pemalsuan vaksin itu, Bareskrim Mabes Polri telah menahan 10 terduga pemalsu vaksin. Sebanyak tiga kelompok produsen sudah ditangkap. Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan para pelaku sangat lihai dalam menjalankan aksi mereka, mulai membuat vaksin, mengemas produk supaya menyerupai aslinya, hingga memasarkannya ke apotek dan toko obat.

Pengungkapan kasus itu berawal dari penangkapan seorang tersangka berinisial J pada 16 Juni 2016. J ialah pemilik Toko Azca Medical di Bekasi, Jawa Barat. Berdasarkan keterangan J, polisi kemudian menemukan tiga tempat yang diduga menjadi tempat untuk meracik vaksin palsu bermerek Tuberculin, Pediacel, Tripacel, Havrix, dan Biosave. Dari tiga lokasi itu, polisi meringkus 9 tersangka, terdiri dari 5 produsen, 2 kurir, 1 pencetak label, dan 1 penjual.
Vaksin palsu tersebut selama ini didistribusikan ke daerah-daerah di sekitar Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya