Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah bisingnya lalu lintas di kawasan Cijantung, Jakarta Timur, tampak seorang kakek duduk tepat di bawah tiang lampu lalu lintas. Wajahnya yang telah keriput tetap mengumbar senyum mesti harus terpapar debu jalanan dan bau asap kendaraan. Di sebelahnya, terdapat sebuah kardus berisi tumpukan tisu. Dia Jeki, 67, yang dikenal warga sekitar sebagai kakek penjual tisu. Jam 'kerja' Jeki di sana setiap pagi pukul 06.00 hingga 10.00 dan sore pukul 17.00 hingga 21.00 WIB. Sambil memegang empat bungkus tisu, ia berdiri dan menawari para pengendara yang berhenti di lampu merah, atau pejalan kaki yang melintas. Namun, jika merasa lelah, ia pun hanya duduk di samping kardus tisu dagangannya.
"Rp5.000 dapat dua bungkus," ujarnya saat ditanyai harga tisu berisi 50 lembar yang ia jajakan. Setiap hari Jeki menjajakan sekardus tisu berisi 80 bungkus. Dari situ ia mengaku mendapat keuntungan rata-rata Rp60 ribu setiap hari. "Uangnya dipakai untuk makan sehari-hari dan bayar kontrakan Rp700 ribu," kata Jeki. Meski keuntungannya tidak seberapa, Jeki mengaku barang dagangannya sering ditawari pembeli. Padahal, harga tisu yang dijualnya lebih murah daripada di minimarket. Jika demikian, ia mengaku pasrah dan merelakannya. Biasanya tisu ditawar tiga bungkus seharga Rp5.000.
"Saya kasih saja daripada enggak ada yang beli? Kalau rezeki ya ada saja. Banyak juga orang yang baik sama saya, kalau beli suka ngelebihin. Misalnya mereka beli satu atau dua tisu, tapi ngasihnya Rp10 ribu," kata kakek tiga anak ini. Kini, empat tahun sudah titik lampu merah ini menjadi tempat Jeki mengais rezeki. Sebelum menjadi pedagang tisu, Jeki pernah mencoba berbagai cara untuk menafkahi keluarganya. Menjadi pemulung dan pengemis pernah dicobanya. Dulu ia beroperasi di kawasan Pasar Rebo. "Pernah jadi pemulung untuk cari nafkah, tapi penghasilannya kecil, enggak cukup buat sehari-hari. Setelahnya saya sempat jadi pengemis," ujarnya. Keputusan Jeki menjadi pengemis saat itu muncul lantaran kebutuhan ekonomi keluarganya yang mendesak. Penghasilan sebagai pemulung tak mencukupi kebutuhan hidup untuk ia, istri, dan ketiga anaknya.
Selain itu, ia juga tergiur oleh penghasilan pengemis yang relatif lebih besar daripada pemulung. "Kalau lagi ada yang baik, sehari bisa dapat Rp100 ribu lebih dari ngemis. Tapi waktu itu saya sering dimarahin juga sama orang-orang yang saya mintai, mereka bilang 'kenapa sih kamu minta-minta?' Lama-lama saya jadi enggak tahan. Badan saya juga enggak kuat kalau harus keliling ngemis," cetusnya.
Dari situ Jeki pun berpikir untuk mencari nafkah dengan cara lain. Istrinya memberikan ide untuk berjualan tisu. Meski penghasilannya lebih kecil daripada saat mengemis, ia memilih berjualan tisu. "Penghasilan dagang enggak nyampe setengahnya dari mengemis, tapi kalau ngemis itu rasanya malu. Gimana pun juga, agama saya bilang tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah," tegasnya. Jeki mengaku lebih menikmati menjadi pedagang tisu daripada menjadi pengemis. Ia merasa lebih dihargai orang lain.(J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved