Memilih Mandiri daripada Mengemis

***
24/6/2016 00:20
Memilih Mandiri daripada Mengemis
(MI/RAMDANI)

DI usia senja, Maung yang tahun ini genap berumur 70 tahun, masih sigap menata sayur-mayur dagangannya. Kepada sayur-sayuran itu, Maung yang dipanggil Kong Maung, mengandalkan ekonomi keluarganya. Kong Maung menjadi pedagang kecil sejak muda di kawasan Pasar Kemiri, Kota Depok. Namun, saat pasar itu ditertibkan, ia pindah ke Pasar Depok Lama yang lokasinya hanya 50 meter dari rel kereta. "Sudah berdagang sejak ini semua masih sawah," ujarnya saat ditemui di Pasar Depok Lama. Pandangan matanya menerawang ke arah jalan raya. Tubung Kong Maung yang renta kini hanya sanggup memikul pikulan berisi sayuran.

Sebelumnya, ia bisa berjualan apa saja seperti peralatan rumah tangga hingga buah-buahan. "Dulu sih kuat jualan apa saja. Sekarang sudah enggak kuat," imbuhnya. Sayur mayur yang dijualnya bukan hasil pertaniannya sendiri melainkan membeli dari petani lain. Ia berdagang sejak pukul 06.00 WIB, di depan teras sebuah toko alat bangunan. Ia tidak seharian berdagang di sana. Saat jualannya habis, ia segera pulang. "Alhamdulillah setiap hari habis. Banyak yang beli," kata Maung. Setiap hari hanya 50 ikat sayuran yang mampu ia beli dengan harga Rp25.000 untuk dijual kembali. Maung menjualnya kembali di pasar dengan harga Rp 5.000 per tiga ikat sayuran. Kakek dari tujuh cucu ini mengatakan dirinya tak ingin menyusahkan anak-anaknya.

Untuk itulah ia masih betah berdagang di Pasar Depok Lama di masa senjanya. "Ada anak. Tapi, kan saya enggak mau nyusahin. Jadi dagang sebisanya saja. Yang penting hari ini bisa makan dan besok ada modal," kata warga Sawangan, Depok ini. Ia mengatakan, beberapa kenalannya menjadi pengemis atau hanya diam di rumah menunggu pemberian sanak keluarga untuk bertahan hidup. Ia enggan menjadi manusia seperti itu. Ia merasa hidup dengan berjualan, meski keuntungan yang didapatnya sedikit. "Kalau sudah tak bisa bangun dari tempat tidur, mungkin ya saat itu baru minta," lirihnya. Eti, 44, salah satu pelanggan Kong Maung mengaku hanya ingin berbagi rezeki dengan lelaki renta tersebut.

Warga Beji itu salut atas perjuangan Kong Maung, meski sudah tua, tetap berupaya mandiri. Tidak mengemis seperti yang lain. Perjuangan serupa dilakukan Saipul, 40, ia saban hari dengan dua tongkat penyangganya tertatih berjalan di kolong fly over Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. Digendongnya sebuah kantong plastik putih berisikan tisu. Meski terlihat repot, dengan penuh semangat Saipul berkeliling di sekitar daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat, menjajakan tisunya yang berisikan 50 lembar setiap kantongnya.

Sebelum kecelakaan dan mengakibatkan kaki kiri Saiful diamputasi, ia menjadi pengojek. Sejak kecelakaan pada 2010 itu, ia mengaku frustrasi. "Seusai kejadian itu saya benar-benar frustrasi," ungkapnya saat disambangi Media Indonesia, Rabu (22/6) siang. Saiful mengatakan, ekonomi keluarganya sempat terpuruk. Dia tak mempunyai kepercayaan diri lagi dan mengurung diri di rumah. Istrinya banting tulang bekerja sebagai buruh cuci. Baru di tahun kedua setelah kehilangan kakinya, kesadaran Syaiful sebagai tulang punggung keluarga muncul lagi. Apalagi, anaknya masih bersekolah di SD. "Saya tidak sempat mikir untuk mengemis, malu. Lalu saya jualan koran keliling di halte bus di daerah Semanggi. Tapi, baru berjualan setahun, pada 2013 ditertibkan dan hilanglah mata pencaharian saya," kenangnya. Ia kembali memutar otak untuk mencari usaha lain.

Akhirnya, Ia menetapkan untuk menjual tisu kemasan secara keliling. Atau sesekali dirinya mangkal di sekitar stasiun, lampu merah atau di sekitar perkantoran di daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat. "Sudah tiga tahun saya jualan tisu kemasan, penghasilannya lumayan," jelas dia. Keuntungan dari berjualan tisu, menurut Saiful, tidak bisa banyak. Harga satu kemasan tisu yang ia jual sebesar Rp3.000, bagi pembeli yang mengambil dua buah kemasan dibanderol Rp5.000. Setiap hari, Saiful mengaku bisa menjual sebanyak 30 bungkus tisu. Jika beruntung seluruh tissu yang Ia bawa habis terjual dan ia bisa bawa pulang Rp100 ribu. Rata-rata ia bisa membawa uang minimal Rp50 ribu, jika sedang sepi maksimal Rp30 ribu.

Mereka butuh pembinaan
Semangat Maung dan Saiful di mata sosiolog, Musni Umar, patut diapresiasi dan menjadi teladan bagi masyarakat. Apalagi, kini sudah sangat jarang warga yang tetap mandiri meskipun hidupnya sangat sulit. "Banyak yang menghalalkan segala cara, termasuk yang paling mudah ialah mengemis. Semangat mereka yang mau mandiri patut diapresiasi," papar Musni. Menurut sosiolog yang juga wakil rektor 1 di Universitas Ibnu Khaldun ini, masyarakat umumnya sudah memahami bahwa tindakan mengemis merupakan tindakan tak terhormat. Namun, banyak yang tidak memiliki jalan keluar sehingga mengambil keputusan final untuk mengemis. Di sinilah peran pemerintah harusnya bisa lebih optimal.

Musni mengungkapkan, pemerintah baik dari tingkat provinsi hingga kota seharusnya bisa memfasilitasi dan melindungi para pedagang kecil seperti Maung dan Syaiful. "Banyak sebenarnya masyarakat kecil yang berdagang kecil. Namun, mereka akhirnya tak pernah bisa berkembang karena berbagai keterbatasan," tukasnya. Musni memahami bahwa setiap pemerintah memiliki kewajiban dalam menertibkan pedagang kaki lima yang mengganggu ketertiban umum. Namun, penertiban tersebut pun diharapkan lebih manusiawi dan tidak merampas barang dagangan karena akan menghilangkan modal pedagang. "Pemerintah harusnya bisa melindungi dan memfasilitasi, bukan merebut. Dana pemerintah kan banyak. Itu salah satunya bisa digunakan untuk memberikan lokasi binaan dan pelatihan," kata Musni. (Gan/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya