Menjaga Warisan Nenek Moyang

Nelly Marlianti
06/7/2015 00:00
Menjaga Warisan Nenek Moyang
(ANTARA/R.Sukendi)
PADA Rabu (1/7) pagi-pagi sekali, para ibu di kawasan Tanjung Priok sudah berbelanja ke pasar. Mereka mau membuat ketupat yang disajikan pada malam harinya. Malam itu merupakan hari istimewa karena jatuh pada 15 Ramadan.

Pada tanggal itu, warga Betawi di Tanjung Priok melaksanakan munggahan yang dirayakan dengan menyantap ketupat sayur. Para ibu yang keluar dari pasar pun langsung menenteng kulit ketupat maupun daun pisang untuk membuat lontong. Di dalam tas plastik bening tampak seekor ayam potong, nangka, labu, beserta bumbu yang sudah siap diolah menjadi makanan.

Nurhayati, 63, warga Kebon Bawang, mengaku setiap tahun membuat ketupat di malam 15 hari puasa. Menurutnya, ini merupakan tradisi yang harus dia lakukan sepanjang tahun.

"Di keluarga kami, sudah turun temurun dari nenek saya dulu memang membuat ketupat seperti ini," ujarnya. Dia menerangkan, sebelum azan magrib, ketupat yang sudah dimasak dan lauk pauknya harus tersedia di atas meja. Makanan itu lalu dibacakan doa oleh ustaz atau kiai. Setelah itu, makanan tersebut dipisahkan sebagian untuk keluarga yang sudah meninggal.

"Ini ada kepercayaan khusus dari keluarga saya yang percampuran antara Betawi dengan Sunda. Kami percaya pada malam ganji di bulan Ramadan, keluarga yang sudah meninggal akan datang untuk menegok keluarganya. Jadi saat momen munggahan ini kami memberikan jamuan juga untuk mereka," terangnya.

Dimanfaatkan pedagang
Tradisi munggahan ini dimanfaatkan pedagang pasar untuk menjual berbagai bahan makanan pembuat ketupat.

Di sepanjang pasar, para pedagang kulit ketupat musiman sudah menjajakan kulit ketupat sejak subuh. Mereka menjual dengan harga Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Para pedagang ini mengisi dua keranjang di sepeda ontel mereka dengan ratusan kulit ketupat siap pakai. Dalam satu pasar ada 5 sampai 10 pedagang kulit ketupat yang menjajakan dagangan mereka.

Saiful, 56, pedagang yang telah berjualan lebih dari 20 tahun, menyatakan hasil menjual ketupat musiman itu membuat dirinya dapat mengantongi keuntungan Rp200 ribu-Rp300 ribu dalam satu hari.

"Lumayanlah buat nambah-nambah," ujar pria yang juga berprofesi sebagai tukang mainan anak-anak di kawasan Rawa Badak. Selain mencari keuntungan, menurut dia yang terpenting ialah menjaga tradisi membuat ketupat. Sebab, sekarang ini sudah jarang orang yang terampil membuat kulit ketupat. "Kalau enggak ada yang membuat kulit ketupat ini, tentunya tidak akan bisa kan ketupatnya dibuat," tandasnya.

Qunutan
Tradisi lain di masyarakat Betawi saat Ramadan adalah qunutan. Tradisi ini ialah membawa makanan ke masjid untuk didoakan. Setelah itu, makanan tersebut dimakan bersama-sama warga.

"Jadi nanti ada pemandangan kalau malam qunut itu warga keluar dari rumah menuju masjid dengan membawa makanan," kata Kepala UPT Setu Babakan Supri Ali. Warga Setu Babakan, lanjut Ali, menyelenggarakan qunutan pada malam 17 Ramadan, bertepatan dengan malam Nuzulul Quran. (J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya