Larisnya Beduk Hias buat Anak Saleh

22/6/2016 02:50
Larisnya Beduk Hias buat Anak Saleh
(MI/GALIH PRADIPTA)

ADA yang berbeda di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, saat ini. Di kawasan yang terkenal sebagai pusat grosir sandang itu, saat ini juga diramaikan kehadiran para pedagang beduk hias. Sebagai pedagang musiman, mereka hanya muncul di bulan Ramadan. Bahkan, sebagian pedagang rela meninggalkan profesi sehari-hari mereka untuk berdagang beduk. Aneka macam bentuk beduk, mulai dari ukuran terkecil hingga terbesar, dipajang di trotoar Jalan KH Mas Mansyur. Umumnya, beduk yang ditawarkan tersebut dibuat dari tong bekas dengan membran menggunakan kulit kambing atau sapi.

Supaya terlihat menarik, tong digambar dengan tokoh-tokoh kartun tertentu. Jangan salah, pembeli beduk hias itu bukanlah pengurus masjid yang hendak menaruhnya di pelataran masjid atau musala. “Kebanyakan yang beli untuk dijadikan hadiah buat anak-anak yang puasanya penuh (tidak pernah batal). Itu hadiah anak saleh namanya. Anakanak nanti menabuhnya di malam takbiran,” papar Reben, 50, seorang pedagang beduk tersebut.

Ia menawarkan beduk buatannya dengan ukuran dan harga yang beragam. Untuk beduk kecil dari kulit kambing berdiameter 20-30 sentimeter diberinya harga Rp100 ribu-Rp250 ribu, sementara ukuran besar dengan diameter 60 sentimeter Rp450 ribu-Rp500 ribu. Untuk beduk berkulit sapi, Reben menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Untuk ukuran kecil, dijualnya dengan harga Rp600 ribu. Lalu ukuran besar dijual Rp1,5 juta. “Semua beduk ini buatan saya sendiri. Kalau hari biasa, saya biasa menjual kambing. Tapi pas puasa, saya jualan beduk,” ujar Reben.

Pada Ramadan tahun lalu, ia bisa menjual sampai 200 beduk. Karena itu, ia menargetkan untuk tahun ini minimal sama dengan tahun lalu. “Puasa pekan pertama ini saja saya sudah menjual 50 beduk. Saya optimistis minimal 200 beduk bisa terjual sampai akhir Ramadan. Biasanya penjualan makin ramai seminggu sebelum Lebaran,” katanya. Reben mengaku meraup untung cukup besar dari penjualan beduk hiasnya itu. Pasalnya, modal untuk membuat beduk itu tidak sampai separuh dari harga jualnya.

Antusiasiasme menjual juga dirasakan Budi, 42. Pria asal Parung Panjang, Bogor, yang sehari-harinya membuka usaha bengkel las itu sudah 15 tahun terakhir tidak pernah absen berjualan beduk saat Ramadan. “Ya, apalagi kalau bukan karena untungnya yang besar,” ujarnya terkekeh-kekeh. (Deni Aryanto/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya