Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
EMPAT preman menganiaya pengamen tunanetra yang sehari-hari mengamen di perempatan Tol Cijago, Jalan Raya Bogor, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Selain dianiaya, topi dan tongkat si tunanetra juga disita oleh komplotan preman itu.
"Mereka amat kejam. Kami, tiap hari diperas habis-habisan," keluh Jorghi, 49, seorang pengamen tunanetra yang menjadi korban penganiayaan di perempatan Tol Cijago, Jalan Raya Bogor, Kelurahan Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok, Selasa (21/6).
Jorghi mengatakan bukan kali pertama ini saja dirinya ditampar preman gara-gara menolak memberikan uang keamanan. "Muka saya memar lantaran ditampar. Saya ingin mengadukan masalah ini kepada penegak hukum kepolisian dan Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja), tapi takut dipersalahkan karena melanggar Perda," terangnya.
Warga asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu, mengaku dikendalikan distributor yang domisilinya di daerah Cianjur. "Kami didrop di lampu merah yang ada di sekitar Depok. Selanjutnya, kalau hari sudah malam sekitar pukul 22.00 (WIB), kami dijemput distributor pakai mobil bak terbuka ke markas penampungan yang berada di Kelurahan Lewinanggung, Kota Depok," paparnya.
Masalah yang dihadapinya ini, kata dia, sudah dilaporkannya ke distributor pengamen untuk berkoordinasi dengan preman. "Namun tidak direspons. Distributor sepertinya tidak mau ambil risiko," pungkasnya.
Ia mengaku merasa terhina dengan peristiwa yang dialaminya. "Saya tidak menghendaki mata buta. Ini adalah takdir dari Tuhan yang harus kuterima dan jalani," tuturnya sedih.
Hal senada disampaikan pengamen tunanetra lainnya bernama Suherman, 37. Ia mengatakan, uang recehan pecahan Rp500-Rp1.000, yang di dalam topi miliknya kerap diambil preman yang kerap nongkrong di tepi jalanan di lampu merah Jalan Insinyur Haji Juanda, Kecamatan Sukma Jaya, Kota Depok.
Saat distributor menurunkannya pukul 6.00 WIB, dia langsung ke tengah jalan dengan dipandu salah seorang lelaki yang matanya tidak buta. Menjelang siang hari sekitar 11.00, datang seorang lelaki minta uang. "Dia minta saya serahkan yang hasil ngamen. Karena tidak dikasih, preman-preman itu mengambilnya secara paksa," katanya.
Fenomena seperti ini, sambung Suherman, bukan rahasia umum lagi bahwa pengamen-pengamen baik yang matanya buta atau tidak dijadikan sapi perahan oleh preman di jalanan. "Serba salah memang. Di satu sisi kami mencari makan mengamen buat menghidupi keluarga di kampung, tapi di sisi lain, kami harus menyetor hasil dari ngamen kepada preman," ujarnya.
Terkait hal ini, Kepala Satpol PP Kota Depok Nina Suzana mengatakan segera menertibkan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang mengemis di lampu merah. "Kami akan tertibkan dan dikembalikan ke daerah asalnya," katanya. (KG/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved