Ganjil Genap Akhirnya Diuji Coba

(Put/J-4)
18/6/2016 04:40
Ganjil Genap Akhirnya Diuji Coba
(PANCA SYURKANI)

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta akhirnya memutuskan akan menerapkan pembatasan kendaraan pribadi dengan metode nomor pelat kendaran ganjil dan genap. Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta Andri Yansyah menyatakan pola itu akan diterapkan untuk mengurai kemacetan pada masa transisi penghapusan kebijakan 3 in 1, sampai kebijakan jalan berbayar elektronik atau electronic road pricing (ERP) siap diterapkan. Saat ini kemacetan di ruas jalan yang sebelumnya merupakan jalur 3 in 1 dan bersinggungan dengan koridor trans-Jakarta semakin parah di jam padat karena sterilisasi koridor trans-Jakarta. "Jalur reguler makin macet. Kami tidak mungkin diam saja. Minimal kami melakukan berbagai upaya sampai ERP ini jadi," kata Andri seusai diskusi persiapan ganjil-genap di Jakarta, Jumat (17/6).

Pembatasan melalui pola ganjil dan genap itu, kata dia, nantinya hanya berlaku pada pukul 07.00-10.00 dan sore hari pada pukul 16.00-20.00. Uji coba pembatasan itu direncanakan mulai dilakukan pada 20 Juli mendatang selama satu bulan, dan akan diterapkan secara permanen pada 20 Agustus. Metode ganjil dan genap diperkirakan mampu mengurangi kemacetan hingga 37%, karena okupansi kendaraan pribadi di Jabodetabek saat ini ialah 75%. Jumlah kendaraan pribadi di Jabodetabek mencapai 16,9 juta dengan 8,49 juta unit ialah kendaraan bernomor pelat ganjil dan 8,45 juta unit ialah kendaraan pribadi berpelat genap.

Pengecualian
Kendaraan tertentu yang tidak terkena pembatasan itu, seperti angkutan umum pelat kuning, pemadam kebakaran, ambulans, kepolisian, dan mobil para menteri, mobil presiden, wakil presiden, serta angkutan barang tertentu. "Selebihnya tidak ada toleransi. Semua kendaraan pribadi kena. Kalau kena, akan didenda maksimal Rp500 ribu," tegasnya. Dalam kesempatan yang sama, perwakilan PT Trans-Jakarta Budi Rachmayadi menyebut bahwa sterilisasi yang baru dilakukan pekan ini mulai menunjukkan dampak pada kenaikan jumlah penumpang. Di koridor 1 (Blok M-Kota) saja terjadi kenaikan penumpang sebesar 4.000 orang, dari 65 ribu per hari menjadi 69 ribu per hari. Namun dari segi waktu tempuh, Budi mengakui belum ada pengurangan waktu karena masih terhambat kemacetan di sejumlah titik yang bersinggungan dengan kendaraan lain.

"Dari Blok M sampai Bundaran Senayan, waktu kita masih belum berkurang karena masih campur dengan kendaraan lain. Tapi dari segi penumpang, cukup meningkat." Sementara itu, Kasubbag Keamanan dan Keselamatan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Miyanto mengatakan sosialisasi harus dilakukan secara masif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Pihaknya sudah memiliki tim yang bertanggung jawab pada pengawasan pelat nomor kendaraan. Antisipasi terhadap pelat nomor palsu akan dilakukan dengan menertibkan lokasi pembuatan pelat nomor palsu serta melakukan penindakan di tempat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya