JARUM jam belum genap menunjuk pukul 17.00 WIB. Stasiun Kereta Tanah Abang, Jakarta Pusat, sudah disesaki penumpang. Bahkan, kesemrawutan terlihat mulai Jalan Jati Baru atau sekitar depan stasiun. Pemicunya, banyak angkutan umum dan ojek yang menaikturunkan penumpang.
Ditambah aktivitas hilir-mudik warga.
Arus kedatangan calon penumpang kereta sore itu deras. Tangga di pintu masuk utama stasiun yang semula berfungsi sebagai akses keluar-masuk hanya dipakai satu arah. Penumpang yang datang sengaja dialihkan lewat pintu lain.
Kartu tiket berlangganan perjalanan kereta (multitrip) dalam genggaman tangan Ika, 31, di saat seperti itu belum cukup membantu. Pasalnya, antrean tidak cuma terjadi di loket pembelian tiket. Sebelum masuk peron pemberangkatan, warga Cimanggis, Depok, itu juga harus antre panjang untuk melakukan tap in tiket di pintu palang stasiun yang kini beroperasi secara elektrik.
Beberapa hari belakangan kondisi seperti itu terus dilakoni Ika sepulang kerja di bilangan Jalan Thamrin. Meski harus bersusah payah menembus padatnya penumpang lain dan kesemrawutan jalan, satu semangatnya, yakni dapat lebih cepat berkumpul dengan keluarga di rumah.
"Selama bulan Puasa pulang dari pukul 16.30, lebih cepat dari hari biasa pukul 18.00. Mumpung balik lebih cepat, jadi langsung jalan saja. Kalau nanti-nanti, malah kemalaman (sampai rumah)," ujarnya beberapa waktu lalu.
Jika tanpa kendala di jalan, Ika memperhitungkan bisa sampai rumah saat waktu berbuka puasa. Meski begitu, ia tetap membawa makanan kecil dan sebotol air untuk persiapan bila azan magrib berkumandang ia masih di perjalanan.
"Paling bawa gorengan yang dibeli deket kantor. Kalau mau kenyang, ya nunggu sampai rumah. Mudah-mudahan saja jalan raya (setelah turun di Stasiun UI) enggak macet," katanya sembari menunjukkan kantong plastik putih berisi makanan.
Begitu pula dengan Anton, 34, warga Citayam, Bogor. Menurutnya, berdesakan di stasiun dan dalam kereta merupakan salah satu momen khas saat ibadah puasa Ramadan setiap tahun. "Biarpun desak-desakan, ada rasa yang berbeda dan tetap nyaman menjalaninya." ungkapnya.
Suasana Stasiun Tanah Abang sore itu memang padat. Penumpang membeludak sejak menunggu rangkaian kereta datang. Akibatnya, enam peron yang ada dipenuhi kerumunan orang. Pemberangkatan kereta yang berlangsung lima menit sekali tidak mampu mengurai penumpukan calon penumpang dengan cepat.
Dengan sedikit memaksa, banyak penumpang mencoba masuk ke kereta kendati sudah penuh. Tidak ada pilihan, mereka harus mau berjubel selama perjalanan.