Masjid Sejuk di Atas Pasar

Denny Aryanto
03/7/2015 00:00
Masjid Sejuk di Atas Pasar
(MI/Ramdani)
LEBIH dari tiga kali, pria berkemeja kotak-kotak warna biru itu mengambil foto anak lelaki berusia tujuh tahun dengan ponselnya. Beberapa kali dia mengubah sudut foto meski masih satu area.

Saat itu, Dadang, 36, beserta anak dan istrinya bukan sedang berada di tempat wisata atau taman yang dijadikan banyak orang sebagai spot berfoto. Rupanya, keunikan disain Masjid Pasar Blok A Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang memancing mereka untuk 'narsis' di depan kamera.

Sesi foto lebih banyak dihabiskan mereka di bagian luar masjid. Mulai bagian depan, samping kiri-kanan, hingga belakang masjid tak luput dari jepretan Dadang. Selama di lokasi, kedua matanya tak lelah berselancar ke tiap sudut masjid, berharap masih ada titik sudut pandang foto yang menarik.

Kedatangan warga Jalan Minangkabau, Tebet, Jakarta Selatan, siang itu dilandasi rasa penasarannya atas info keelokan Masjid Pasar Blok A. Dia mendapat informasi itu dari internet. "Tadi sempat juga lihat-lihat pakaian di bawah. Karena kebetulan sedang Ramadan, momen ini juga kita manfaatkan untuk wisata religi. Di sini selain masjidnya unik, sangat bersih dan tertata baik," ungkapnya.

Menurut Dadang, karakter masjid cukup kuat terlihat dari tiap sudut. Apalagi jika melongok ke bagian dalam, akan terlihat banyak ornamen khas bangunan rumah ibadah di Timur Tengah.

"Informasinya sih, ini masjid bergaya Timur Tengah. Tapi masya Allah, bentuknya indah. Ditambah, suasana yang begitu tenang. Selama ibadah bisa begitu khusyuk karena masjid seakan tidak terasa ada di tengah pusat perbelanjaan. Padahal, turun sedikit saja kita tahu sendiri, ramainya seperti apa. Mungkin itu juga salah satu kebesaran-Nya," ucapnya.

Bergeser ke bagian pelataran samping masjid, beberapa pengunjung tengah beristirahat. Sebagian terlihat hanya menyadarkan punggung ke tembok masjid, bermalas-malasan di lantai, ada juga yang tertidur.

Wahyu, 38, misalnya, saat itu menyempatkan diri untuk beribadah sembari menunggu istrinya selesai berbelanja pakaian. Baginya, tidak ada tempat lain yang nyaman selain masjid untuk beristirahat sekaligus beribadah.

"Setiap mengantar istri belanja, lebih baik saya menunggu di masjid sambil istirahat dan baca Alquran. Nanti kalau sudah selesai baru tinggal jemput ke bawah," kata dia.

Wahyu mengutarakan, meski masjid tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan, kenyamanannya tetap bisa dinikmati. Desiran angin alam, menurutnya, sudah lebih dari cukup.

Secara umum, konsep fisik Masjid Pasar Blok A mengadopsi bangunan Masjid Nabawi, Arab Saudi. Namun, untuk detailnya, ada tiga budaya yang melekat di dalamnya, yakni Persia, Turki, dan Spanyol.

Mahdi, 41, takmir Masjid Pasar Blok A, menjelaskan tecerminnya budaya Persia jelas terlihat dari hiasan seni keramik yang membentuk tulisan kaligrafi di bagian tembok dalam. Mimbar katib dibuat secara lancip dan berada lebih tinggi daripada jemaah menunjukkan budaya Turki. Lalu seni patri kaca mesjid dengan aneka hiasannya sangat kental dengan budaya Spanyol.

"Mimbar yang kita punya memang cukup khas, seperti mimbar di Masjid Ayasofiah, Turki. Kubah mesjid sengaja tidak dibuat karena kebetulan ada di pasar," kilahnya.

Masjid Pasar Blok A, ungkap Mahdi, tidak cuma difungsikan sebagai tempat sarana ibadah. Banyak pula kalangan masyarakat datang dengan tujuan untuk berwisata religi. Untuk yang satu ini, biasanya mereka datang bersama keluarga ataupun kerabat.

"Banyak masyarakat yang tertarik datang ke sini. Fungsi masjid sendiri sejak awal tergantung setiap orang yang datang. Belum lagi di sini banyak orang yang datang berbelanja. Biasanya sebagian ada yang menunggu di masjid, sedangkan lainnya sibuk berbelanja," ceritanya.

Sekitar masjid dikelilingi lorong secara simetris yang menghubungkan ruang tunggu, tempat penitipan barang, tempat wudu, serta toilet. Pengunjung mesjid paling banyak terlihat saat ibadah salat Jumat, dengan jumlah jemaah sampai 3.000 orang.

"Dibuatnya lorong-lorong simetris ada maknanya, maksudnya kehidupan di dunia ini ada dua yang tidak terpisah, yakni hablun minallah dan hablun minannas. Kedua hal itu saling mengisi," paparnya.

Di Pasar Blok A, masjid dinilai begitu diagungkan. Tidak seperti di kebanyakan tempat perbelanjaan lain yang menempatkannya di bawah. "Cuma sedikit pengelola pusat perbelanjaan yang menyediakan masjid di atas (gedung). Biasanya di parkiran bawah atau jika di atas juga tetap di sekitar parkiran kendaraan. Kalau di sini, masjid ditempatkan sendiri paling atas," urainya.(J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya