Melongok Peluang Ahok di Pilgub 2017

Akmal Fauzi
02/7/2015 00:00
Melongok Peluang Ahok di Pilgub 2017
()
GUBERNUR DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok berpeluang besar menjadi orang nomor satu di Jakarta selama dua periode. Peluang itu terlihat dari hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB) yang menunjukkan 70,8% warga Jakarta merasa puas atas kinerja Ahok.

Peneliti senior PDB Agus Herta Sumarto mengatakan, dalam survei itu, warga Jakarta masih merasa puas atas kinerja Ahok. Padahal, ada beberapa masalah seperti kema­cetan lalu lintas dan banjir yang membuat warga mendesak Ahok untuk segera menyelesaikannya.

"Ini anomali. Ahok disebut belum berhasil menyelesaikan masalah utama, tapi warga merasa puas," kata dia saat memaparkan hasil survei di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Agus, mayoritas pendukung Ahok ialah swing voters atau orang yang tidak beraviliasi dengan partai. Apalagi, pascakekisruhan antara Ahok dan DPRD DKI, dukungan masyarakat terhadap Ahok sangat kuat. "Dari kekisruhan itu mereka (masyarakat) yang tidak beraviliasi partai politik, yang benci dengan masalah korupsi, mendukung langkah Ahok," ujarnya.

Nama lain yang juga muncul dalam survei itu di antaranya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Mereka punya tingkat keterpilihan (elektabilitas) tinggi yang menjadi saingan terdekat Ahok. "Dari nama-nama yang ada, Bu Risma dan Kang Emil yang mempunyai elektabilitas tinggi. Namun, Ahok masih memimpin. Jadi, tiga orang ini yang dianggap laik bertarung di Pilgub DKI 2017," kata dia.

Selain mereka, ada nama lain yang muncul berdasarkan popularitas (terkenal) dan akseptabilitas (diterima). Salah satunya ialah Abraham Lunggana atau biasa disapa Lulung. Namun, tingkat akseptabilitasnya kecil. "Lulung sangat populer, dengan angka 85,8%, tapi dianggap belum bisa diterima masyarakat karena tingkat akseptabilitasnya kecil, cuma 11,9%," bebernya.

Survei tersebut dilakukan PDB mulai 26 Mei hingga 1 Juni lalu secara telepolling dengan instrumen wawancara melalui telepon terhadap 422 orang yang mewakili masyarakat DKI Jakarta. "Margin of error sekitar 4,8% dengan tingkat ketepatan 95%," kata Agus.

Bisa memimpin
Pengamat politik Alfan Alfian yang hadir dalam pemaparan hasil survei mengatakan faktor yang membuat Ahok masih sangat populer dan dianggap mampu memimpin Jakarta kembali ialah Ahok tipikal pemimpin yang nonkonvensional (tidak biasa).

Di tengah peliknya masalah di Jakarta, kata Alfan, sosok pemimpin yang nonkonvensional seperti Ahok sangat dibutuhkan jika melihat apa yang sudah dilakukan dengan gagasan-gagasannya membangun Jakarta. "Tokoh unconventional (nonkonvensional) seperti Ahok dengan gagasannya, ketegasannya, bahkan sikap kontroversialnya, membuat pemilih rasional sangat mendukung itu," kata dia.

Alasan lainnya, ujarnya, dalam pemberitaan sosok Ahok masih jadi tokoh protagonis yang ditempatkan media. Contohnya, lanjut Alfan, dalam pemberitaan ketika terjadi kekisruhan antara Ahok dan DPRD. "Kalau dalam film, dia sebagai jagoannya. Justru tokoh antagonis ditujukan untuk Haji Lulung," ujarnya.

Faktor terakhir yang membuat elektabilitas Ahok tinggi yaitu masyarakat menganggap Ahok sebagai pemimpin yang bisa memimpin. Gaya kepemimpinan seperti itu pula yang diharapkan warga Jakarta.

"Ahok menunjukkan sebagai pemimpin yang bisa memimpin dengan isu-isu populer. Isu antikorupsi, pendisiplinan birokrasi, pembenahan SDM (sumber daya manusia), juga perlawanan terhadap kepalsuan-kepalsuan birokrasi sehingga masyarakat bisa melihat dia memang bekerja," jelasnya.

Terkait dengan kemungkinan Ahok maju dari jalur independen, menurutnya cara itu sangat sulit. "Persoalnnya sama seperti sekarang ini, ia sangat sulit mempunyai kekuatan di parlemen dan itu perlu diperhatikan," tegasnya. (J-2)

akmal@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya