Terobos Jalur TransJakarta, dari Ngekor Bus Hingga Buka Portal Sendiri

Ilham Wibowo
14/6/2016 10:48
Terobos Jalur TransJakarta, dari Ngekor Bus Hingga Buka Portal Sendiri
(MI/Immanuel Antonius)

PETUGAS Patroli Jalur TransJakarta kewalahan. Pengendara kendaraan pribadi masih kedapatan nekat melitas jalur TransJakarta. Petugas akhirnya rela mengalah dari pengendara yang naik pitam dengan kondisi kemacetan.

Seorang Petugas Patroli Jalur TransJakarta bernama Rino Nugroho, 30, menuturkan, tiga tahun sudah dirinya menjadi petugas penjaga portal jalur TransJakarta. Koridor VI Rute Bus Dukuh Atas 2-Ragunan menjadi kantornya setiap hari.

Pukul 5.30 WIB, ia harus tiba di posnya. Sebab, sepanjang Jalan Warung Jati Barat hingga ujung Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan kerap macet parah. Kemacetan biasanya terjadi pada jam sibuk, sekitar pukul 06.00 WIB-09.00 WIB saat berangkat kerja dan 17.00 WIB -20.00 WIB pada saat pulang.

"Setiap portal ada satu petugas patroli berjaga. Semua rolling bergantian. Ada sekitar 18 portal di Koridor VI," kata Rino, Selasa (14/6)

Sejak armada TransJakarta beroperasi pada 15 Januari 2004, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengimbau masyarakat agar beralih menggunakan kendaran umum. Keberadaan bus yang dibarengi dengan jalur khusus itu diharapkan dapat mengurangi kemacetan Jakarta yang kian hari kian parah.

Meskipun demikian, masih banyak pengendara yang lebih memilih kendaraan pribadi daripada menggunakan TransJakarta. Berbagai macam alasan dilontarkan hingga akhirnya nekat menerobos jalur khusus tersebut yang merupakan tindakan pelanggaran lalu lintas.

Rino berturur, selama menjadi petugas patroli, ia pernah menemui berbagai macam trik pengendara non-TransJakarta agar bisa dengan leluasa menggunakan jalur khusus tersebut. Meski demikian sesuai prosedur, pengendara yang baru kedapatan hendak menerobos diberikan pengetahuan tentang tata tertib berlalu lintas.

Portal dan penjagaan petugas patroli belum ampuh menstrerilisasi jalur dari kendaraan non-TransJakarta. Satu waktu, kata dia, seringkali pengendara sepeda motor kedapatan mengekor di belakang Bus TransJakata yang melintas. Trik ini digunakan agar tidak terkena tilang petugas.

"Kalau sudah mengekor diam-diam seperti itu, petugas sulit memberi imbauan. Mereka ngebut mengikuti laju Bus dan akhirnya menerobos," kata Rino.

Tidak hanya itu, lanjut Rino, dirinya juga pernah menghadapi penggendara sepeda motor yang sangat arogan demi melintas jalur khusus TransJakarta pada saat kemacetan tak bisa dihindari. Rino tak sanggup menghadapi pengendara yang mengaku berasal dari sebuah instansi negara. Ia pun hanya bisa memberikan imbauan seadanya.

"Pengendara itu nekat membuka portal sendiri. Daripada berdebat lama kemudian menghambat Bus TransJakarta tidak baik juga. Petugas Polisi di ujung jalur biasanya menangani," kata dia. (MTVN/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya