SUARA knalpot dan riuh klakson kendaraan tidak sedikit pun mengurangi kekhusyukan Muhammad Ridwan, 28, dalam mengikuti lantunan doa imam salat Tarawih dari pengeras suara yang berada tepat di sampingnya.
Ridwan dan belasan warga lainnya bukan berada di belakang barisan imam sebagaimana makmum pada umumnya. Mereka berjajar memanjang satu saf di jembatan penyeberangan orang di samping Musala Miftahul Jannah, di Jalan Basuki Rahmat, Pasar Gembrong, Jakarta Timur.
Musala seluas 112 meter persegi berlantai dua itu memang tidak mampu menampung ratusan jemaah. Oleh karena itu, jemaah salat tarawih membeludak hingga keluar musala, dan mereka yang tidak kebagian tempat di dalam musala pun memanfaatkan jembatan penyeberangan, Meski terpaksa salat di jembatan penyeberangan beralaskan sajadah dan selembar karton, kekhusyukan mereka tidak terpengaruh. Selain di jembatan penyeberangan orang, hal sama juga dlakukan jemaah pada separuh jalan umum di samping musala.
Bagi Ridwan, salat Tarawih di jembatan penyeberangan itu bukan yang pertama kali. Hampir setiap Ramadan, ia kerap kebagian tempat untuk bertarawih di jembatan itu. "Enggak (terganggu kebisingan). Di mana pun, yang penting niat. Termasuk di jembatan penyeberangan ini," ujarnya seusai salat Tarawih beberapa hari lalu.
Menurut laki-laki yang sudah 10 tahun menjadi jemaah musala itu, sebagian besar warga sekitar musala, yaitu warga RW 02 Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, pernah salat Tarawih di jembatan tersebut. Oleh karena itu, mereka pun menyebut hal tersebut sebagai salah satu ciri khas Ramadan warga setempat.
"Ciri khas saat Ramadan antara lain ada petasan dan kolak. Kalau bagi warga sini, kekhasan lainnya ya tarawih di jembatan penyeberangan orang," ujarnya diiringi tawa.
Ponco, salah seorang pengurus musala mengungkapkan, warga mulai memanfaatkan jembatan penyeberangan untuk salat sejak jembatan itu selesai dibangun pada 2001. Itu terjadi karena Musala Miftahul Jannah yang dibangun pada 1970 memang hanya berkapasitas 500 jemaah. Bila jumlah jemaah membeludak, mereka pun terpaksa harus memanfaatkan badan jalan dan jembatan penyeberangan.