Nama Penganan Abaikan etika

***
10/6/2016 00:30
Nama Penganan Abaikan etika
(MI/ANGGA YUNIAR)

PERSAINGAN bisnis kerap membuat pergeseran norma. Awalnya, nama-nama yang dinilai tabu dijauhi untuk menamai sebuah produk kuliner. Dulu nama daerah menjadi petunjuk asal kuliner tersebut. Misalnya, soto kudus, soto betawi, bubur manado, satai blora, satai maranggi, dan bubur cianjur. Saat kita mendengar nama-nama kuliner itu, citarasa masakannya sudah terbayang. Kadang, meski belum pernah mencicipinya, kita enggan mencobanya. "Tidak ah, orang Manado itu suka pedas. Saya tidak tahan pedas. Jadi, tidak mau nyoba bubur manado," kilah Galih, mahasiswa UNJ, yang menolak ajakan Media Indonesia, akhir pekan lalu. Namun, kini terjadi pergeseran. Nama-nama unik dan konyol menjadi nama kuliner/jajanan, mulai nama makhluk halus, setan, pocong, dan genderuwo, hingga hal yang berkonotasi menjijikkan, seperti meler dan moncrot.

Bagi pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rachmawati, nama kuliner yang unik maupun nyeleneh merupakan bagian dari strategi marketing pelaku usaha. Para remaja, kata Devie, menjadi orang yang paling pertama mencoba mendatangi kuliner yang memiliki nama unik atau nyeleneh itu. "Itu bagian dari komunikasi persuasif dari pelaku usaha. Biasanya para remaja yang tertarik. Ciri masyarakat modern itu selalu ingin hal yang baru," ujar Devie. Gambaran Devie di atas pas saat Media Indonesia mampir ke kios Makaroni Ngehe di Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/6) malam. Puluhan sepeda motor terparkir di kios seukuran 3 x 2 meter itu. Umumnya muda-mudi berusia 15 hingga 30 tahun. Gadis, misalnya, pelajar SMA di Jakarta Selatan itu mengaku awalnya penasaran dengan nama 'Ngehe'. Setelah mencoba, ia kini menjadi pelanggan setia. "Saya selalu ingin mencoba yang baru, kalau enak saya datang lagi. Kalau tidak enak, ya sudah sekali saja," ungkapnya.

Hal berbeda dialami Fitri, 35. PNS Kementerian Perhubungan itu mengaku tidak terlalu tergiur dengan gerai makanan baru yang kerap bermunculan dengan mengusung nama yang aneh, bahkan terdengar negatif. Ia tetap setia kepada warung bakso langganan di dekat kantornya. "Enggak. Saya sudah punya langganan. Kalau ke tempat lain ya paling hanya sekali untuk mencoba, habis itu sudah. Paling enggak beli lagi. Cuma tertarik di awal," tuturnya. Alasannya ialah Fitri sudah merasa nyaman dengan penjual dan pelayanan di gerai makanan langganannya. Ini yang menjadi faktor Fitri tak mau pindah ke lain hati. "Sudah akrab dengan yang jual. Makanannya juga lebih bervariasi dan rasanya konsisten enak terus. Pelayanannya juga bagus. Harga tidak kalah murah," terangnya.

Pilihan nama
Menurut Devie, jika nama yang dianggap unik maupun nyeleneh disematkan pada kuliner tapi tidak diimbangi dengan rasa makanan itu, dipastikan kuliner itu akan ditinggalkan. "Pertanyaannya konsumen balik lagi atau tidak. Di Indonesia, masyarakatnya tidak cukup dengan komunikasi persuasif saja, dengan marketing lewat nama saja," tukasnya. Pun demikian, Devie sangat menyayangkan jika pemberian nama pada makanan terlalu kasar atau tidak pantas. Dirinya tidak menampik adanya dampak yang ditimbulkan pada pembeli dari nama kuliner itu.

"Pembeli dari anak kecil ikut-ikutan menggunakan bahasa yang kasar atau tidak sopan itu tidak bisa dihindarkan," sesalnya. Orangtua tentu risih memberikan oleh-oleh kepada keluarga, misalnya, dengan makaroni ngehe atau piscok meler. Pasti akan ditanyai istri atau anaknya apa itu 'ngehe'. Sulit untuk menjelaskan arti kata yang terdengar tabu itu. Ngehe sendiri tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata itu biasanya dipakai sebagai umpatan.
(Put/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya