LELAKI berkulit sawo matang itu mendorong gerobaknya di Jalan Ir H Juanda, Kota Bekasi, kemarin (Minggu, 28/6/2015). Bajunya basah oleh keringat. Seorang wanita berkerudung kuning berjalan mengikutinya. Di dalam gerobak, dua anak kecil meringkuk terlelap beralaskan karung plastik.
"Tiap tahun saya memang rutin datang ke kampung orang, khususnya saat Ramadan," ujar Soleh, sembari memarkirkan gerobaknya di bawah pohon angsana di pinggir Jalan Ir H Juanda.
Soleh yang mengaku dari Cianjur, Jawa Barat, membawa keluarganya ke Kota Bekasi untuk mengemis. Kehidupan seperti itu sudah dijalaninya selama 10 tahun. Kota yang ia datangi setiap tahun selalu berbeda. Khusus di Bekasi, itu merupakan yang kelima.
Di Cianjur, Soleh bekerja sebagai kuli panggul di pasar tradisional. Istrinya merupakan pedagang sayur keliling. Namun, di saat Ramadan dia selalu menjadi pengemis karena masyarakat lebih dermawan.
"Kalau puasa kerja jadi kuli panggul dan pedagang sayur, penghasilannya tidak cukup. Awalnya kami ikut-ikutan jadi pengemis," ujar Soleh.
Siang hari, Soleh mangkal di bawah jalan layang (flyover) Summarecon Bekasi. Menjelang sore, bersama istrinya ia mendorong gerobak sampai ke Jalan Ir H Juanda. Di situ, ia mulai beroperasi sambil menunggu jam berbuka puasa.
Seusai berbuka, Soleh mengantarkan kedua anaknya menuju masjid terdekat. Saat itu, giliran anak-anak dan istrinya yang mengemis di depan masjid-masjid terdekat. Soleh mengais rezeki dari rasa iba orang lain sampai dengan menjelang sahur. Setelah itu, barulah ia dan keluarganya beristirahat.
"Dengan mengemis paling sedikit saya dapat Rp2 juta selama dua minggu. Berbuka dan sahur selalu dapat dari dermawan yang datang," ujarnya.
Saking enaknya mengemis, Soleh mengajak beberapa orang teman lainnya. Mereka pun beroperasi sesuai dengan arahan Soleh.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Sosial Kota Bekasi, Dalfi Hendri, mengakui jumlah pengemis dan gembel meningkat 10%-20% saat bulan Ramadan. Mereka sulit dibina dan selalu kembali saat bulan puasa datang.
Dalfi mengimbau agar warga tidak bersedekah kepada para pengemis tersebut agar mata rantai kemalasan bisa diputus.
"Jangan sampai yang masih mau berusaha berpikir enakan mengemis daripada berjualan. Tolong warga jangan memberi mereka, lebih baik ke yayasan atau lembaga yang dipercaya," Dalfi menyarankan.(J-3)