Pelaku Kekerasan Didominasi Orangtua

(DA/Beo/J-4)
03/6/2016 04:30
Pelaku Kekerasan Didominasi Orangtua
(Ilustrasi)

KEHIDUPAN di Ibu Kota yang keras tidak bisa dimungkiri turut memengaruhi pola didik orangtua terhadap anak. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) 2015 menunjukkan kasus kekerasan anak mencapai 2.943. Dari jumlah itu, 667 kasus terjadi di DKI Jakarta.

Konselor Komnas PA, Pravistania Putri, mengatakan pelaku dalam kasus kekerasan anak didominasi orangtua. Ia menjelaskan, ada tiga faktor yang menjadi pemicu utama, yaitu masalah ekonomi, disharmonisasi keluarga, dan perilaku sosial. "Memang masalah ekonomi terus berimbas pada banyak persoalan lain," ujarnya.

Persoalan ekonomi, kata dia, berkaitan kuat dengan pemerintah. Ia menilai diperlukan kebijakan khusus dari pemerintah, yakni program pencegahan kekerasan anak, untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga. "Kuncinya memang tetap ada di pemerintah. Jika kondisi sosial ekonomi tinggi, atau setidaknya ada pembekalan pencegahan pasti dapat diminimalkan," katanya.

Sementara itu, langkah konkret penanganan masalah perilaku sosial ialah melalui program deteksi di dalam proses pencegahan terhadap anak. Deteksi dini bisa saja dilakukan lewat peran karang teruna, posyandu, dan forum-forum warga. “Peran lingkungan harus terus diberdayakan. Lingkungan tersebut yang paling dekat dengan kehidupan keluarga. Setidaknya, ada deteksi dini sebelum kasus kekerasan anak oleh orangtua atau anggota keluarga lainnya," jelasnya.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni'am Sholeh, mengatakan peran tokoh agama dinilai sangat penting untuk mencegah dan mengurangi terjadinya kekerasan terhadap anak. "Mereka bisa berpartisipasi untuk menyumbangkan gagasan tentang isu perlindungan anak. Kasus-kasus itu bisa diminimalkan lewat pendekatan keagamaan," tuturnya.

Beberapa isu yang bisa diangkat ialah mengenai pentingnya pengasuhan secara baik, tanggung jawab orangtua dalam pemeliharaan dan pengasuhan anak, pemilihan pendidikan yang baik, pembinaan dan pendampingan dalam penggunaan media permainan, serta tayangan televisi. Langkah itu diharapkan Asrorun dapat berkontribusi dalam penurunan angka kasus kekerasan terhadap anak, khususnya di Ibu Kota. "Jakarta menjadi pusat keberadaan orang dengan berbagai latar belakang sosial yang berbeda sehingga rawan stres dan anak rentan jadi pelampiasan," tutupnya. (DA/Beo/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya