Melindungi Anak dari Kerasnya Jakarta

Akmal Fauzi
03/6/2016 02:10
Melindungi Anak dari Kerasnya Jakarta
(MI/RAMDANI)

TANGAN mungil Adi, 5, menggenggam sebatang ranting pohon. Kaki kecilnya berlari mengejar kakaknya, Dika, 8. Ranting kering di genggaman itu dipukul-pukulkan ke arah sang kakak. Perilaku Adi itu meniru persis yang dilakukan ayahnya, Parlan, 34, saat mengomeli kakaknya itu. Selain memukul dan menjewer, kata-kata kasar kerap terlontar dari mulut sang ayah setiap kali marah. Cara Parlan menegur, alih-alih berdampak baik, malah membuat anaknya meniru perilaku kasar tersebut. Gambaran kehidupan keluarga Parlan hanya menjadi sebagian kecil potret keluarga yang tinggal di kerasnya Ibu Kota. Tidak mengherankan jika ada kabar anak di bawah umur melakukan tindak kejahatan.

Keluarga sebagai benteng pertama pendidikan anak gagal menjadi pelindung. Apa yang dilakukan Parlan memang tidak lepas dari kehidupan di lingkungannya. Tinggal di permukiman padat penduduk di kawasan Cipinang Jagal, Jatinegara, Jakarta Timur, membuat perilaku keras menjadi hal yang lumrah dilakukan di lingkungan tersebut. "Saya dari kecil juga diperlakukan sama oleh orangtua saya," kata Parlan ketus. Daerah Cipinang Jagal selama ini dikenal sebagai wilayah rawan tawuran. Yang paling baru terjadi pada akhir April lalu, remaja di wilayah itu bentrok dengan remaja dari Kampung Kebon Singkong yang lokasinya berdekatan.

Memprihatinkan
Kondisi serupa juga terlihat di permukiman padat penduduk di Gang Buncit, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Azizah, 33, berteriak memaki Salma, anak perempuannya yang sedang malas sekolah. Tanpa menanyakan alasannya terlebih dahulu, Azizah langsung meneriakkan kemarahannya kepada sang anak hingga omelannya terdengar ke mana-mana. Salma yang duduk di kelas 6 SD itu pun akhirnya dengan berat menyeret langkahnya untuk berangkat sekolah meskipun dengan mata yang basah. Kehidupan Azizah sekeluarga tergolong memprihatinkan. Tempat tinggal yang berada tepat di bantaran Kali Mampang itu hanya berukuran 3 x 5 meter. Rumah sempit itu disekat dua ruangan, penghuninya tujuh orang.

Azizah yang merupakan warga pendatang dari Pekalongan, Jawa Tengah, itu hanya lulusan SMP. Sang suami yang lulusan SMA bekerja menjadi kuli dengan penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan. Meski menjadi ibu rumah tangga, ia jarang berinteraksi dengan anak-anaknya. Salma sang anak lebih suka keluar rumah dan menghabiskan waktu dengan teman-teman sebaya di lingkungannya. "Paling saya cuma nyuruh dia sekolah atau ngasih tahu kalau dia minta sesuatu, itu tidak bisa langsung dikabulkan. Tunggu ada duitnya dulu. Saya paling ngomel. Kalau sampai main tangan, enggak pernah," tuturnya.

Rangkul anak
Setelah melihat kondisi tersebut, psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Vera Itabiliana mengingatkan, anak tidak boleh menjadi pelampiasan emosi orangtua. "Kalau sedang marah, baiknya kita balik kananlah. Minum dulu, tenangin diri sendiri. Baru setelah itu hadapi anak dengan tenang," jelas Vera. Pola pendidikan orangtua yang diterapkan kepada anak, kata dia, akan berpengaruh hingga si anak dewasa. Orangtua merupakan orang pertama yang dikenal anak.

"Secara tidak langsung akan memengaruhi dan membentuk karakter anak," tuturnya. Sementara itu, Aries Ahmad Jaya, salah satu motivator dari Character Building National, mengatakan peran keluarga menjadi bagian terpenting dalam pembentukan karakter anak. Keluarga menjadi sekolah pertama bagi anak. "Sayangnya banyak keluarga, khususnya orangtua, yang tidak memiliki pendidikan parenting sehingga menyerahkan pembentukan karakter anak kepada pihak lain," jelas Aries. Fenomena yang terjadi saat ini, kata dia, pola mendidik dan mengajari anak merupakan perilaku warisan dari orangtua mereka dulu.

Ia melihat saat ini banyak orangtua yang tidak ambil pusing dengan apa yang dikerjakan anak mereka mulai usia kanak-kanak hingga remaja. Itu termasuk kebiasaan anak yang mengalami ketergantungan pada gim daring (online game) atau gadget. Padahal, itu menjadi titik awal pengaruh buruk perilaku anak. Hal lainnya, kata Aries, banyak orangtua yang saat ini menyerahkan urusan pendidikan anak kepada orang lain. Contohnya mulai mendatangkan guru privat pelajaran, mengaji, hingga ekstrakurikuler. Imbasnya hal itu mengikis kedekatan orangtua dan anak.

"Sehingga anak kurang curhat sama orangtua. Mereka akan mencari sosok lain yang membuat mereka nyaman. Padahal, belum tentu orang yang tepat, malah memberi pengaruh buruk," ujarnya. Ditambah lagi, tingkat kepedulian sekitar di lingkungan tempat tinggal saat ini sangat lemah. Orang lebih banyak berperilaku apatis satu sama lain. "Itulah kemudian memicu terjadinya tindak kekerasan pada anak. Karena rendahnya kepedulian satu sama lain," tegas Aries. Karena itu, ia mengajak para orangtua untuk kembali mengambil alih kedekatan dan merangkul anak-anak mereka. Memperbaiki jalinan ikatan emosional, misalnya dengan lebih banyak memberi waktu untuk berkomunikasi dengan anak. "Jangan sampai mereka salah pilih tempat curhat karena anak tanpa pantauan bisa salah jalan, terjerumus pergaulan bebas, tindak kriminal, atau narkoba," tutupnya. (Gan/Nic/Beo/DA/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya