Ketua RT/RW Di DKI Wajib Melek Teknologi

Deni Aryanto
02/6/2016 20:24
Ketua RT/RW Di DKI Wajib Melek Teknologi
(youtube.com)

PERSOALAN aplikasi Qlue belakangan ramai disuarakan kalangan Ketua RT/RW di Jakarta. Salah satu alasannya minimnya pengurus lingkungan menjalankan aplikasi berbasis teknologi terkait laporan keluhan warga tersebut.

Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio menanggapi sudah semestinya kalangan generasi muda mulai menggantikan peran di lingkungannya setidaknya sebagai Ketua RT/RW. Ia tak memungkiri, Ketua RT/RW yang mayoritas berusia tua saat ini sedikit banyak mengalami kesulitan menjalankan teknologi. Di satu sisi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berinovasi menerapkan sistem berbasis teknologi di semua lini.

"Pasti itu jadi salah satu kendala Ketua RT/RW banyak mengeluh saat ini. Cuma kebetulan ada momen lain yang bisa dijadikan alasan. Jujur saja, seperti saya yang sudah tua kayak begini sedikit banyak tertinggal sama anak muda masalah teknologi," ungkap Agus, Kamis (2/6).

Dinilai pula, kemampuan mengikuti inovasi sekarang ini sudah sangat penting dapat diikuti. Terlebih dengan konsep pembangunan di Ibu Kota Jakarta yang sudah berbenah menjadi Kota Cerdas atau Smart City.

"(Ketua RT/RW) kalau tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi mending diganti saja. Dengan teknologi, sebenarnya semua kan jadi transparan," jelasnya.

Pada dasarnya berbicara persoalan Qlue, sambungnya, ada beberapa indikasi di dalamnya. Diantaranya bisa saja Ketua RT/RW enggan menjalankan teknologi. Juga ada pelanggaran yang coba ingin ditutupi.

"Sudah bukan rahasia umum banyak Ketua RT atau RW yang bermain di lingkungannya. Mungkin karena ada aplikasi Qlue permainan kotor mereka takut lebih mudah diketahui. Karena kan pasti semua dapat lebih transparan," katanya.

Disamping itu, ia juga menyarankan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedikit merevisi terkait kapasitas jumlah laporan Qlue yang harus disetor Ketua RT/RW. Sebaiknya tanggungjawab tersebut lebih bersifat situasional. Lantaran tiap wilayah memiliki karakteristik masing-masing.

"Seperti di Menteng atau Pondok Indah pasti laporan Qlue sedikit. Beda dengan Kalijodo atau Tanah Abang. Jadi sulit kalau dipatok sebulan minimal 90 laporan," tandasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya