Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TIGA pria dan dua wanita turun dari Mikrolet M44 jurusan Jatinegara-Karet, di Jalan Casablanka. Mereka turun diseberang Mal Kota Kasablanka/Kokas. Sekitar 5 meter dari lokasi, ada jembatan penyeberangan orang (JPO) menuju Mal Kokas. Bukannya menuju ke JPO, mereka justru menyeberang sembarangan dengan santai sembari melambaikan tangan mereka. Salah satunya ialah Dodi Supriadi, 27, warga Duren Sawit, Jakarta Timur. Menurutnya, buang-buang waktu dan energi menyeberang lewat JPO. "Ketimbang lewat JPO, saya harus naik-turun. Lalu, jadi jauh ke mal, jalan lagi karena JPO tidak tepat di depan mal," kilah Dodi. Dodi, pegawai swasta yang bekerja di kawasan kuningan, Jakarta Selatan, mengaku tidak ingat lagi kapan terakhir kali ia menggunakan JPO. Menurut Dodi, banyaknya masyarakat yang juga menyeberang sembarangan secara tidak langsung membuat orang saling mencontoh. "Karena ada yang nyeberang sembarangan, ya saya ikut saja. Saya yakin mereka juga begitu ketika lihat saya. Apalagi tidak ada sanksi," imbuh Dodi. Sementara itu, Rinaldy Sofyan, 35, warga Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, memiliki alasan berbeda.
Sebenarnya ia tidak ada masalah harus meluangkan waktu untuk melalui JPO atau berjalan kaki dan menyeberang di zebra cross. Namun, kondisi JPO yang tidak layak jadi alasan baginya. Sering kali zebra cross juga tidak bisa dilalui karena banyak kendaraan berhenti di atasnya. Ia mencontohkan, saat pulang dari tempat kerjanya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, ada tujuh sepeda motor berhenti di zebra cross yang hendak ia lalui ketika akan menyeberangi Jalan Hang Tuah dari Jalan Sisingamaraja menuju Jalan Raden Fatah II. "Saya jadinya harus lewat mana? Masak ke tengah jalan?" ujarnya kesal. Dari pantuan Media Indonesia, zebra cross yang ada di Jalan Raden Fatah II dan di Jalan Sisingamaraja di dua jalurnya nampak pudar. Sejumlah pengendara sepeda motor selalu berhenti di zebra cross di sana sehingga menghalangi penyeberang.
Contoh
Tidak semua pejalan kaki seperti Dodi dan Rinaldy. Ada Elfany, 30, PNS yang bekerja di kawasan Kuningan, yang mengaku sangat jengkel melihat orang yang menyeberang bukan pada tempatnya. Apalagi jika di lokasi tersebut ada sarana JPO atau zebra cross. "Alasannya sederhana, apa susahnya sih menaati peraturan? Sudah ada tempatnya, kan," kata dia. Elfany menambahkan, sejak ia kecil, orangtuanya selalu membiasakan dirinya untuk menggunakan JPO saat menyeberang jalan. Sering kali ingin mengajak orang lain untuk bisa seperti dirinya.
Namun, sering kali yang diajak malah tidak mau. Alasannya, jauh atau capai naik turun JPO. "Itu omong kosong, mereka hanya malas," tandas Elfany. Terkait dengan perilaku melanggar aturan, psikolog Universitas Indonesia Mira D Amir menilai ada kelalaian dari setiap orangtua yang tidak mengajarkan anak untuk patuh sejak dini, karena pada dasarnya kebiasaan yang dilakukan seseorang ketika dewasa ialah apa yang sudah dilakukan mulai dari kecil. (J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved