Mengajak Warga Lestarikan Budaya Betawi

Akmal Fauzi
30/5/2016 05:40
Mengajak Warga Lestarikan Budaya Betawi
(DOK MI/IMMANUEL ANTONIUS)

"NAIK kereta anak dituntun, ke pasar ikan beli ikan kerapu harusnya. Orangtua kita suka berpantun, mari kita jaga jangan sampai punah." Sebait pantun Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang disampaikan saat membuka Festival Palang Pintu ke-XI di Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (28/5), itu menyisipkan pesan pengingat kepada warga asli Betawi untuk tetap ikut melestarikan budaya tersebut. Meski agak memaksa, bait pantun yang dibawakan gubernur yang akrab disapa Ahok itu menyampaikan pesan bahwa festival yang digelar saban tahun menjelang hari ulang tahun (HUT) Jakarta itu menjadi bagian pelestarian budaya Betawi. Palang Pintu, tradisi perpaduan silat dan pantun jenaka yang biasa ditampilkan dalam prosesi upacara pernikahan adat Betawi, memang menjadi sajian utama. Puluhan sanggar Betawi menyambut gembira festival ini. Berbagai lomba kreasi jurus silat, penampilan tari-tarian, pertunjukan musik, lenong, kebudayaan Betawi Samrah, dan Sohibul Hikayat memanjakan pengunjung yang datang.

Festival itu memang kerap menyedot perhatian masyarakat untuk datang, terlebih bagi mereka yang rindu menyantap kuliner Betawi atau menyaksikan atraksi pertunjukan seni khas Betawi yang kini kian tergerus zaman. "Setiap tahun saya pasti datang ke Festival Palang Pintu. Selain cari makanan Betawi, mau lihat hiburan lenong juga yang sudah susah ditemuin," kata Samsir, 41, pengunjung dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pengunjung lainnya, Aldi, 26, mengaku datang ke festival yang digelar dari 28-29 Mei itu untuk menyalurkan hobinya, memotret. Apalagi, kata dia, saat ini sulit menemukan pertunjukan budaya Betawi di Ibu Kota. "Selain di Kampung Betawi Setu Babakan, ya cuma di acara tahunan seperti ini. Kapan lagi bisa melihat dan memotret pertunjukan Palang Pintu yang sudah jarang ditemukan," tuturnya.

Festival ini pertama kali diadakan pada 2006. Adalah Padepokan Manggar Kelape yang merintis festival itu sebagai pusat kebudayaan Betawi. Kawasan Kemang yang menjadi tempat padepokan itu semakin banyak pendatang. Sejak festival itu dibuka, ratusan pengunjung berdatangan sejak siang. Bukan hanya pengunjung lokal, warga negara asing juga ikut menikmati suguhan seni Betawi dan sajian kuliner, seperti kerak telor dan selendang mayang. Dalam festival itu, panitia menyediakan dua panggung utama dengan hiburan musik yang disajikan sehingga pengunjung bebas memilih mau menonton yang mana yang lebih mereka suka.

Silaturahim
Ketua Panitia Festival Palang Pintu, Ridwan Nazar, mengatakan, selain melestarikan budaya Betawi, festival itu juga menjadi ajang silaturahim para pelaku seni budaya Betawi. "Para seniman jadi bertemu semua dan bisa saling silaturahim. Dan tentunya kegiatan ini dalam rangka menyambut HUT ke-498 Kota Jakarta," ujarnya. Dikatakan Ridwan, dalam festival ini, terdapat 270 stan yang bisa dinikmati pengunjung. "Sebanyak 30% stan kuliner. Sisanya ada produk lain, seperti pakaian dan kerajinan tangan," ujarnya. Ia berharap, rangkaian kegiatan dalam festival itu bisa turut menjadi penyemangat, terutama bagi warga Betawi, untuk ikut melestarikan budaya. (J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya