Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Budi Waseso, menyebutkan jumlah narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) yang dise-lundupkan ke Indonesia sudah dalam ukuran ton.
BNN saat ini sedang berupa-ya mengungkap keberadaan narkoba yang jumlahnya luar biasa banyak itu. "Barang narkoba yang masuk jumlahnya sudah dalam ukuran ton. Itu hasil penelusuran. Yang jelas informasi didapatkan dari data intelijen yang kita terima," kata Budi, di Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan, jenis narkoba yang berasal dari luar negeri itu bermacam-macam. Beberapa di antaranya bahkan jenis baru. "Narkoba yang masuk dalam jumlah besar tersebut paling banyak adalah jenis sabu dan ekstasi. Semua produk dari luar negeri itu, termasuk sa-bu cair, yang terbanyak dari Tiongkok," kata Budi.
BNN, sambungnya, sudah membuat kerja sama dengan interpol di berbagai negara, di antaranya dengan Tiongkok, Taiwan, Rusia, dan Pakistan, guna menangkal masuknya barang haram tersebut ke Indonesia.
"Kalau di Tiongkok, pembuat prekursor (zat kimia pemula untuk bahan baku pembuatan narkotika) adalah home industry. Hal itu tidak dilarang dalam undang-undang negara tersebut. Dapat dijual kepada siapa saja dan ketika mulai dijual, pembelinya orang Indonesia dan itu diinformasikan ke kita," kata Budi.
Saat dihubungi di kesempatan berbeda, Kabag Humas BNN Kombes Slamet Pribadi menambahkan saat ini telah terjadi pergantian modus dalam pengiriman narkoba ke Indonesia. Narkoba tidak lagi dikemas dalam jumlah yang banyak, tapi dibagi-bagi hingga ukuran kecil.
"Para bandar tidak lagi menyelundupkan sekaligus dalam jumlah besar. Biasanya bandar mengirim narkoba dengan modus pecah," ujarnya. Modus pecah tersebut, sambung Slamet, misalnya, 100 kilogram sabu yang akan dikirim ke Indonesia dibagi menjadi lima, atau 20 kilogram setiap pengiriman.
Tujuannya, lanjut dia, ialah mempersulit petugas dalam mengungkap jaringan atau bandar besarnya.
Disimpan di helm
Di Samarinda, Kalimantan Timur, Satuan Resnarkoba Polresta Samarinda menangkap dua mahasiswa yang tengah mengedarkan sabu. Dari ta-ngan mereka, polisi menyita 1 kilogram sabu yang disembunyikan di dalam helm.
"Penangkapan dilakukan Jumat (27/5) saat mereka sedang mengendarai sepeda motor. Ini berdasarkan informasi dari masyarakat dan sedang kami kembangkan dengan penyelidikan," kata Kapolresta Samarinda, Kombes M Setyobudi Dwiputro, kemarin.
Polisi, sambungnya, sempat kesulitan mencari barang bukti sabu dari tangan mereka. Sepeda motor yang ditumpangi pun sempat digeledah. Namun, polisi tidak menemukan apa pun.
"Dan saat petugas memegang salah satu helm mereka, kok terasa berat sekali. Petugas pun membongkar helm itu dan didapati sabu seberat 1 kilogram. Memang ada banyak cara yang dilakukan pemain narkoba untuk mengelabui petugas," lanjut Setyobudi. Dari pemeriksaan sementara, polisi menduga mahasiswa berinisial He dan Ra itu hanya kurir narkoba. Mengenai asal sabu-sabu yang ditemukan tersebut, Setyobudi mengatakan pihaknya masih menyelidikinya. (SY/Ant/J-1)
Sebanyak 200 calon PMI sektor manufaktur diberangkatkan ke Jepang sebagai upaya pemerintah mendorong tenaga kerja Indonesia berdaya saing global.
Tiga pria dan 11 wanita yang ditangkap sebagian besar adalah warga negara Indonesia dan Filipina, berusia antara 27 dan 51 tahun
Ketua Umum Apjati, Said Saleh Alwaini, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir ada beberapa masalah dan tantangan dalam penempatan PMI di Singapura.
MENYEDIAKAN layanan pembayaran lintas negara memiliki sejumlah kendala yaitu lambat, mahal, dan sangat rumit. Pasalnya, aliran uang dari satu negara ke negara lain melewati banyak bank.
KEMENTERIAN Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia memberikan klarifikasi terkait dugaan tenaga kerja Indonesia (TKI) perempuan yang ditemukan di peti es dalam kondisi masih hidup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved