PETASAN dan kembang api menjadi bagian yang tidak pernah lepas dari momentum Ramadan dan Idul Fitri. Karena itu, sejak menjelang bulan puasa tiba, penjualan kedua jenis barang itu menjamur di sejumlah sudut Jakarta.
Salah satu tempat yang tidak pernah sepi dari pedagang petasan dan kembang api ialah Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta Barat. Pedagang kedua jenis barang yang memenuhi bagian bawah flyover Pasar Pagi itu nyaris tidak pernah sepi dari pembeli. Tingginya transaksi penjualan membuat omzet para pedagang mencapai jutaan rupiah per hari.
Romi, 37, salah seorang pedagang musiman petasan, mengaku sejak membuka lapak pada akhir Mei lalu, omzetnya rata-rata mencapai Rp5 juta per hari. "Sejak sebelum Ramadan, pembeli sudah banyak yang berdatangan. Sama seperti menjelang Ramadan tahun lalu," kata dia, pekan lalu.
Laki-laki asal Garut, Jawa Barat, tersebut menjual beragam jenis petasan dan kembang api dengan harga yang bervariasi pula, yaitu mulai Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah. Petasan korek api, cabai rawit, dan petasan banting dijual mulai Rp5.000 hingga Rp15 ribu per kotak berisi 5 hingga 10 batang.
Sementara itu, kembang api dijual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp650 ribu. Kembang api klasik bergagang kawat ia jual Rp10 ribu dengan isi 15 batang, sedangkan kembang api air mancur Rp20 ribu per lima batang. Adapun kembang api jenis cake shot dengan 25 kali letupan ke atas dihargai Rp650 ribu.
"Makin banyak letupannya, makin mahal harganya. Akan tetapi, yang paling banyak dicari ialah kembang api kawat sama air mancur. Kalau petasan, yang sangat laris petasan korek dan cabai rawit," ujarnya.
Pembeli petasan dan kembang api di kawasan Pasar Pagi Asemka sebagian besar ialah pedagang yang akan menjualnya kembali di tempat lain. Oleh karena itu, menurut pedagang lainnya, Imron, 45, yang paling banyak dicari ialah kembang api bergagang kawat dan air mancur berwarna-warni serta petasan dengan bunyi tertentu yang terdengar unik. Itu disebabkan kembang api dan petasan jenis itulah yang paling diminati pembeli eceran.
"Petasan yang paling laris ialah petasan gasing yang suara dan bentuknya unik. Harganya Rp5.000. Yang ini bayak dicari karena disukai anak-anak," kata pedagang yang sudah delapan tahun berjualan di pasar tersebut.
Dengan modal Rp20 juta, Imron berharap pada saat Lebaran nanti keuntungan yang diperoleh bisa melampaui Ramadan tahun lalu yang mencapai Rp50 juta. Keuntungan sebesar itu terpotong Rp2 juta untuk biaya sewa lapak semipermanen berukuran 5 x 5 meter selama satu bulan.
Bebas razia Saat ditanya kemungkinan terkena razia oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) atau polisi, ia mengaku tidak khawatir. Pasalnya, uang sewa yang dibayarkan kepada pengurus di pasar itu sudah menjamin bebas razia. Selain itu, ia mengklaim petasan yang dijualnya merupakan petasan impor dari Tiongkok yang penjualannya sudah mendapat izin.
Tempat penjualan petasan dan kembang api lainnya yang selalu ramai saat sepanjang Ramadan hingga Lebaran ialah Pasar Gembrong, Jakarta Timur. Jenis petasan dan kembang api yang dijual sama seperti yang diperdagangkan di Pasar Pagi Asemka.
Salah seorang pedagang, Azmi, juga mengatakan barang dagangannya kebanyakan berasal dari Tiongkok. Namun, ia mengaku menjual pula petasan buatan Indramayu, Jawa Barat, dengan daya ledak kuat. Ia tidak memperlihatkan jenis petasan tersebut di antara dagangannya karena takut terkena razia. "Kalau ada yang menanyakan, baru diambil. Nyimpennya di tempat yang agak jauh dari sini," ucapnya. (J-2)