Sayang,Dukungan Warga Minim

(Beo/Nik/J-3)
27/5/2016 01:10
Sayang,Dukungan Warga Minim
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

UPAYA Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membersihkan sungai atau kali di Ibu Kota tidak berarti tanpa dukungan masyarakat. Tengok saja kondisi di Kali Grogol yang ada di depan Mal Central Park dan Sungai Ciliwung di depan Mal Season City, Jakarta Barat, serta Kali Mampang, Jakarta Selatan. Di dua sungai di Jakarta Barat itu sampah terlihat menumpuk. Tumpukan sampah paling banyak ada di depan Mal Season City. Dari penuturan Marni, pedagang kaki lima yang berjualan di depan Mal Season City, setiap hari selalu ada sampah di sungai itu. "Tapi, sampahnya bukan dari warga yang tinggal di dekat sungai ya. Itu sampah kiriman, muaranya ke sini. Kalau sampai menumpuk, pasti akan meluap," kata Marni. Setiap pagi sekitar pukul 08.00, ungkap Murni, tumpukan sampah sudah menggunung. Kemudian datang petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang mengangkat sampah itu ke dalam truk. "Ada 10 truk yang datang," jelas Marni.

Dari pantauan, di tengah sungai itu ada pematang yang biasanya digunakan warga sekitar untuk menyeberang.
Dari pematang itu, petugas Dinas Kebersihan mendorong sampah ke pinggir sungai untuk kemudian diangkut ke truk.
Kendati banyak sampah, air Sungai Ciliwung tidak berwarna hitam, tetapi cokelat, berbeda dengan warna Kali Grogol yang hitam. Menurut Ari, pengawas lapangan dari PT Samhana Indah, perusahaan yang bekerja sama dengan Pemprov DKI untuk membersihkan sampah, warna air yang ada di Kali Grogol sebenarnya sama seperti yang ada di kali atau sungai di Jakarta. "Kalau air Sungai Ciiliwung, warna cokelatnya disebabkan pertemuan banyak aliran kali atau sungai. Lalu ditambah dengan air tanah. Kalau di Kali Grogol, hitam juga karena adanya lumpur yang berasal dari endapan kotoran yang kalau tidak dikeruk, bisa mengakibatkan pendangkalan," kata Ari. Hal serupa pun terjadi di Kali Mampang, Jakarta Selatan. Di sana airnya cokelat.

Agus Sutriana, 30, petugas oranye di sana, mengatakan setiap pagi bersama rekan-rekannya membersihkan Kali Mampang di bagian yang terletak tepat di sisi Jalan Kemang Timur V, Jakarta Selatan. Di sana ada sekat untuk menahan sampah yang mengalir di badan sungai. "Setiap pagi, ketika kami datang, sampah yang mengapung akan menumpuk di sekat ini biar enggak ikut mengalir terus," ujar Agus. Meski ia dan rekan-rekannya setiap hari terus bersih-bersih di kali, nyatanya setiap hari selalu ada sampah yang berdatangan. Di Kali Mampang, sampah rata-rata berasal dari sampah rumah tangga, seperti botol plastik bekas, bungkus makanan, kemasan sabun, dan kasur bekas.

Saat pantauan Media Indonesia di lapangan, Agus dan teman-temannya mendapati dua buah kasur berukuran single yang mengapung di Kali Mampang. "Pagi sampai sore kita bersihin. Malam hari banyak yang buang sampah lagi ke kali. Akhirnya besok paginya sampah banyak lagi," ujar Agus. Ia menyayangkan masih ada warga yang menjadikan kali sebagai tempat pembuangan sampah. Ricky, 25, petugas oranye di kawasan Pondok Jaya Raya, Jakarta Selatan, mengatakan hal serupa.
Biasanya warga membuang sampah ke kali pada malam hari. "Kelihatan dari turap di belakang rumah warga. Ada yang sampahnya tersangkut, menandakan mereka memang biasa buang sampah ke sungai," tuturnya. Namun, hal itu dibantah Sumiati, 50, seorang warga di Pondok Jaya Raya. Menurutnya, warga di bantaran Kali Mampang di kawasan tempat ia tinggal kini tak pernah lagi membuang sampah ke kali. "Yang buang sampah di kali itu bukan orang sini," tegasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya