Sungai Bersih bukan Mimpi

Akmal Fauzi
27/5/2016 01:00
Sungai Bersih bukan Mimpi
(ANTARA FOTO/Widodo S Jusu)

PROYEK normalisasi sungai Ciliwung sepanjang 19 km mulai menunjukkan hasil. Jika menengok bantaran Ciliwung di daerah Condet, Jakarta Timur, hingga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, perubahan jelas tampak. Sebelumnya, wajah sungai terlihat kumuh dan sempit. Kini, sepanjang kawasan itu terlihat lebih luas, lebar sungai kurang lebih 20 meter, bantaran sungai sekitar 10 meter bebas dari permukiman liar yang dulu memadati area itu. Deretan pepohonan di sepanjang sungai menjadikan suasana asri, terkesan seperti di perdesaan. Meski masih berwarna cokelat, air sungai tak hitam pekat lagi. Sampah plastik yang dibuang warga tak beretika masih terlihat di pinggiran kali, tapi tak menumpuk. Ardi, 45, warga 07/05 Condet, mengaku kaget dengan perubahan Ciliwung. Ciliwung yang dikenalnya selalu penuh sampah kini mulai bersih. "Kalau pagi itu, di tepian sungai ada batu cadas alami Ciliwung sampai terlihat. Dulu mah kayak comberan (warna hitam pekat), dekat (ke sungai) juga malas," ujarnya

Kondisi Ciliwung yang mulai berubah wajah merupakan wujud kerja keras Pemprov DKI yang bekerja sama dengan Kodam Jaya dan beberapa komunitas. Sejak Desember 2014, Kodam Jaya saban hari terjun untuk membersihkan sungai dari sampah. Sosialisasi agar warga peduli kondisi Ciliwung pun dilakukan. Asisten Teritorial Kodam Jaya Kolonel Infanteri Arudji Anwar mengatakan ada tiga titik lahan milik Kodam Jaya yang ada di tepian Ciliwung yang diserahkan untuk program normalisasi. Tiga titik tersebut, yakni di Rindam Jaya, Kalibata, dan juga kawasan Berlan, Matraman, Jakarta Timur. Proyek normalisasi itu, menurutnya, sampai dengan saat ini berjalan terus.

Khusus di daerah Rindam Jaya, normalisasi sudah berjalan 80%. Diperkirakan, Juni atau Juli 2016 ini akan selesai. Di Kalibata dan Berlan, pengukuran tengah dilakukan. "Kodam Jaya mendukung sekali masalah lingkungan dan kawasan sehat indah bersih Ciliwung," kata Arudji. Program komunitas untuk menjadikan Ciliwung lebih bersih dan tertata pun tak kalah gencar. Di pinggiran Ciliwung, di RT 07/05 Condet, areal seluas 3,2 hektare akan dijadikan Kampung Condet Lestari (KCL) dengan membudidayakan tanaman salak, yang merupakan tanaman khas Condet. Program penataan itu merupakan bagian dari program gerakan bersama, baik warga masyarakat Condet, Kodam Jaya, BPTP Kementerian Pertanian, Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Dinas Kelautan Pertanian dan Ketahanan Pangan.

Di bagian lain, Kali Mampang yang membentang di wilayah Jakarta Selatan, dan melewati sejumlah kawasan permukiman, seperti Kompleks Kemang Timur, Kemang Utara, dan Pondok Jaya, tampak membaik. Bau menyengat yang berasal dari kali tak lagi tercium. Air berwarna cokelat mengalir lancar menuju arah utara. Namun, sejumlah sampah, seperti botol plastik bekas minuman dan bungkus makanan, masih tampak mengapung meski jumlahnya tak lagi banyak. Rampung 2018
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Teuku Iskandar menjelaskan pengerjaan normalisasi Ciliwung sudah berjalan 47%. Pengerjaan dibagi empat paket dengan total panjang 19 kilometer. Pengerjaan dilakukan dengan perkuatan tebing sungai, galian alur sungai, pembuatan tanggul, dan jalan inspeksi.

Paket pertama ialah dari pintu air Manggarai, Jakarta Selatan, sampai jembatan Abdullah Syafei di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Paket kedua dari jembatan Kampung Melayu ke jembatan Kalibata, Jakarta Selatan. Selanjutnya, paket ketiga dari jembatan Kalibata ke arah jembatan besi Condet, Jakarta Timur, dan terakhir dari jembatan Condet ke jembatan tol JORR TB Simatupang, Jakarta Selatan. Namun, dari paket itu, ia mengaku belum semua tersentuh proses pengerjan normalisasi. "Yang baru disentuh beberapa saja, seperti di Kampung Melayu, lalu di Kalibata dan Rindam Jaya, Condet," kata Iskandar. Pengerjaan paket itu telah dimulai sejak Desember 2013 dan ditargetkan selesai Desember 2016 dengan total anggaran Rp1,18 triliun.

Namun, proyek diperkirakan molor hingga 2017 atau 2018. "Tapi akan terus diupayakan, minimal apa yang sudah dikerjakan bisa berdampak pada pengurangan banjir," ujarnya. Iskandar menjelaskan, kendala utama ialah pembebasan lahan milik warga yang menempati bantaran kali Ciliwung. Hal itu membuat proses pengerjaan normalisasi selalu terhambat. Dalam proses normalisasi, Iskandar menegaskan, bukan semata-mata hanya untuk mengembalikan kapasitas air di Kali Ciliwung, melainkan juga mengembalikan lagi biota yang ada di Kali Ciliwung. Saat ini, baru ikan sapu-sapu yang hidup, targetnya 23 jenis ikan bisa hidup di Sungai Ciliwung.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya