Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH 7 dari 14 tersangka pemerkosaan dan pembunuhan Yy di Bengkulu ialah anak-anak di bawah umur. Salah satu dari tiga pemerkosa dan pembunuhan keji EP di Kosambi, Tangerang, juga seorang bocah di bawah umur. Dua fakta itu hanyalah sedikit contoh dari beberapa kasus kriminal serius yang dilakukan anak-anak. Sosiolog dari Universitas Nasional Jakarta, Sigit Rochadi, memaparkan perilaku sadis anak-anak itu tak lepas dari pengaruh pesatnya kemajuan teknologi informasi saat ini. Sayangnya, kemajuan itu tidak dibarengi dengan penyaringan informasi yang memadai. "Jadi, konsumsi informasi dalam bentuk film dan gambar di kalangan anak-anak saat ini sangat besar. Anak-anak masih belum bisa menyaring mana yang benar dan mana yang salah, lalu mereka mempraktikkannya begitu saja," kata dosen FISIP Unas itu, Minggu (22/5).
Ia mengusulkan larangan penggunaan telepon seluler yang bisa memutar film, permainan, dan internet bagi anak-anak SD dan SMP. "Telepon seluler boleh, tapi sebatas untuk kirim pesan dan telepon. Berani enggak pemerintah kita melakukan itu seperti di Swedia. Di Swedia, setelah terjadi pemerkosaan massal oleh anak-anak pada 2008, muncul larangan penggunaan telepon seluler itu, kemudian angka kriminal anak-anak menurun tajam," jelasnya. Sigit juga menyoroti, institusi-institusi primer di masyarakat yang selama ini menjalankan peran pendidikan dan kontrol tidak berfungsi.
Keluarga dan institusi pokok kemasyarakatan lain mulai luntur dalam mengajarkan nilai-nilai sosial, tradisi, dan norma. Ditambah lagi, sambung Sigit, fungsi sekolah dan guru sebagai pengajar kini terkekang oleh ketakutan pelanggaran HAM. "Sekarang guru mencubit saja diperkarakan di polisi. Guru menghukum dengan berdiri di depan kelas juga diperkarakan di komisi etik, dan begitu seterusnya. Jadi, guru-guru sendiri juga sudah kehilangan percaya diri untuk menjalankan fungsi menjalankan otoritas pendidikan," tekannya.
Solidaritas tinggi
Kriminolog dari Universitas Indonesia, Jakarta, Adrianus Meliala, berpendapat bahwa perilaku kriminal yang dilakukan anak-anak tak bisa dilepaskan dari belum matangnya anak-anak dalam berpikir. "Namanya juga anak-anak. Dia belum memiliki pertimbangan rasional dalam rangka bertindak sesuatu. Karena itu, dalam memutuskan tindakan kriminal serius seperti membunuh, itu dilakukan dengan pertimbangan yang sederhana sekali sesuai dengan alur pikirannya," ujarnya.
Adrianus melihat modus kejahatan kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan anak-anak di bawah umur disebabkan dua faktor. "Pertama dia tidak mampu mengatur emosi. Jadi, masih mengikuti kata hati. Kedua, mengikuti kata teman karena solidaritas terlalu tinggi. Jadi, kalau teman bilang A, dia akan lakukan A," katanya. Untuk modus kejahatan asusila, katanya, hal itu mayoritas terjadi karena konsumsi pornografi oleh anak di bawah umur yang mudah didapatkan saat ini.
"Dia lihat, lalu dia terpengaruh, dan melampiaskannya dengan cara yang salah." (J-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved