60 Ribu Pelanggan PDAM masih Antre

(KG/J-1)
20/5/2016 03:09
60 Ribu Pelanggan PDAM masih Antre
(MI/Bagus Suryo)

PEMERINTAH Kota Depok, Jawa Barat, saat ini tengah menyusun cetak biru dalam upaya memenuhi kebutuhan air minum warga kota itu hingga 2020. Pasalnya, hingga saat ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Asasta Kota Depok baru mampu melayani 62 ribu pelanggan. Sebanyak 60 ribu lagi masuk daftar tunggu dan baru bisa dilayani pada 2017. "Kita harus bisa memperluas area pelayanan air bersih 2017," ujar Direktur Utama PDAM Tirta Asasta Kota Depok Muhamad Olik Abdul Holik di kantornya, Kamis (19/5). Langkah yang sudah dilakukan PDAM saat ini, sambungnya, ialah mempercepat pembangunan stasiun pengolahan air bersih di Sungai Ciliwung dan Citayam. "Kami targetkan pengolahan air bersih itu sudah bisa menyuplai air ke Depok pada 2017 atau paling lambat 2018," ujarnya. Langkah lainnya, sambung Olik, dengan menambah tempat penyulingan air di sejumlah wilayah. Menurut rencana, tempat penyulingan akan dibangun di daerah Sawangan, Bojongsari, Cinere, Pancoran Mas, dan Cimanggis karena wilayahnya yang dekat dengan 26 situ. "Pembangunan tempat penyulingan di lima wilayah itu akan menyumbang 4.000 liter air per detik pada 2017. Ini sejalan dengan kebutuhan air minum yang makin meningkat setiap tahun," ujarnya.

Kurang dana
Direktur Umum PDAM Tirta Asasta EE Sulaeman menambahkan, 60 ribu calon pelanggan dari 650 kompleks perumahan di Kota Depok sampai saat ini masih belum terlayani karena terbatasnya anggaran pembangunan infrastruktur. "Pemerintah Kota Depok telah menyuntikkan dana APBD sebesar Rp449 juta kepada PDAM Tirta Asasta 2016. Namun, dana sebesar itu tak bisa memenuhi kebutuhan 60 ribu calon pelanggan air minum yang tersebar di 650 kawasan perumahan," katanya. Untuk meningkatkan kapasitas air minum di Kota Depok, sambung Sulaeman, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diharapkan bisa memberikan bantuan dana melalui penyertaan modal.

"Kami sudah mengusulkan penyertaan modal kepada Ditjen Cipta Karya melalui proposal 2016 sebesar Rp2 triliun. Kami sangat berharap mendapatkan bantuan dana APBN tersebut," terangnya Bentuk bantuan itu berupa proyek penggantian dan perbaikan pipa induk pada Jalan Raya Bogor dari Kecamatan Tapos sampai Kecamatan Cimanggis dengan panjang 14 kilometer. Saat ini, pipa induk berdiameter 550 milimeter yang dipasang sejak 1912 sudah lapuk dan rusak sehingga menyebabkan kebocoran air mencapai 210 liter per detik.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya