Rasa Bersalah dan Berdosa Terus Menghantui

Gana Buana/J-1
30/4/2016 08:01
Rasa Bersalah dan Berdosa Terus Menghantui
(MI/Galih Pradipta)

INGATAN LD, 26, kembali berputar ketika menyaksikan pemberitaan yang menayangkan penggerebekan di Klinik Medical Centre, Jalan Ir H Juanda, Bekasi Timur, Kamis (28/4) sore.

Tayangan itu kembali membuka ingatannya saat menjalani aborsi di klinik itu, 9 bulan lalu.

"Demi kehormatan keluarga, saya dipaksa mengugurkan buah hati saya oleh orangtua saya," isak LD saat memulai ceritanya, kemarin.

Ia menuturkan, kehormatan keluarganya terusik saat ia tak mampu lagi menyembunyikan kondisinya yang sudah berbadan dua pada pertengahan 2015 lalu.

Kekasihnya pun tak kunjung mau menikahinya.

"Ini aib besar buat keluarga, tapi saya tetap ingin mempertahankan kandungan saya," ujarnya tanpa berhenti menangis.

Suatu siang di hari Jumat, sekitar pertengahan Juli 2015, LD dijemput menggunakan mobil tantenya.

Sang ibu mengajak LD pergi bertiga bersama tantenya.

Dari pengakuan ibunda, ia akan dibawa ke klinik kandungan untuk mengecek kondisi janin yang sudah berumur 10 minggu itu.

"Dari luar, klinik itu tak tampak seperti klinik dokter kandungan," ujar LD.

Begitu masuk klinik, ibu LD langsung mendatangi petugas administrasi dan merundingkan sesuatu.

LD mulai merasakan keanehan karena sejak awal ibunya dan petugas itu berbicara secara berbisik-bisik.

Namun, hingga detik itu, ia mengaku masih belum tahu maksud kedatangan mereka ke klinik itu.

Belakangan ia baru tahu saat itu ibunya tengah menawar tarif aborsi yang dipatok klinik tersebut.

Awalnya, petugas mematok tarif Rp4.000.000.

Namun, setelah ditawar, harga jasa aborsi pun berkurang hingga Rp1.500.000 ditambah tips jasa petugas sebesar Rp500.000.

Selama 15 menit pun berlalu.

Ibu dan tante LD mendekatinya dan membisikkan sesuatu ke telinganya.

Perasaan campur aduk langsung dirasakan LD ketika tahu bahwa ia dibawa ke klinik itu untuk menggugurkan janin yang dikandungnya.

Ia merasa dunia seperti sudah runtuh saat itu.

Namun, ia tak mampu berbuat apa-apa demi menuruti kemauan sang ibu.

"Saya langsung lemas, tak tahu lagi harus berbuat apa. Terserah saya mau diapakan," ujarnya.

Dengan pasrah LD menguatkan hati untuk menuruti keinginan sang ibu.

Ia lalu masuk ke sebuah ruangan yang terletak di bagian tengah gedung utama.

Aborsi janinnya pun terjadi dan itu hanya dilakukan oleh seorang perawat.

"Tidak ada dokter di situ. Meski bekerja sendirian, perawatnya seperti sudah sangat terampil," ujarnya.

Kini rasa bersalah dan berdosa terus menghantuinya.

Tak cuma itu, ia juga khawatir akan dicari polisi karena praktik aborsi ilegal di klinik itu terbongkar.

"Saya sudah pasrah, tapi ini semua demi nama baik keluarga," sesalnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya