Kawasan Johar Baru Akan Ditata

Deni Aryanto
28/4/2016 17:54
Kawasan Johar Baru Akan Ditata
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

UNTUK menanggulangi konflik sosial yang terus terjadi, Pemerintah Kota Jakarta Pusat berencana melakukan penataan kawasan permukiman padat di Johar Baru, Jakarta Pusat. Harapannya, warga mau direlokasi dari tempat tinggalnya ke rumah susun (rusun).

Di Johar Baru, aksi tawuran antar warga terus berulang sejak lama. Sudah tidak terhitung upaya mediasi maupun deklarasi damai dilakukan untuk mencegahnya.

Begitupula korban jiwa dan luka-luka yang terus berjatuhan. Sejumlah langkah pengamanan seperti pemasangan kamera pengawas (CCTV) hingga menyiagakan puluhan personil kepolisian rupanya juga tidak menyurutkan hasrat pemuda untuk saling menyerang.

Terkait hal tersebut, Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede berencana untuk menata permukiman warga Kecamatan Johar Baru agar tidak kumuh dan layak huni. Sebab, diketahui bila beberapa Kelurahan seperti, Tanah Tinggi, Kampung Rawa, Johar Baru, dan Galur memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi.

"Rencana relokasi itu sudah disosialisasikan ke warga," jelasnya, Kamis (28/4).

Berdasarkan data yang dihimpun, kawasan Johar Baru, khususnya Kampung Rawa merupakan permukiman warga terpadat se-Asia Tenggara. Hal itu terlihat dari data jumlah warga yang kini mencapai sebanyak 26.563 jiwa di 104 RT dan 8 RW dengan luasan wilayah hanya 30,11 hektare.

"Kalau dikalkulasikan, satu orang warga hanya memiliki ruang hidup seluas 11,3 meter persegi. Padahal setidaknya dibutuhkan 33 meter persegi normalnya. Hal ini yang memicu konflik, mulai dari hal kecil seperti tidak bisa beristirahat dan harus tidur bergantian, akibatnya pola hidup menjadi tidak sehat dan waktu istirahat mereka kemudian digunakan untuk melakukan aktivitas lainnya, seperti nongkrong di pinggir jalan," ungkap Mangara.

Karena tingkat stres yang tinggi, gesekan kecil saja diungkapkannya dapat memicu konflik antar kelompok masyarakat, khususnya pemuda. Sehingga sangat wajar apabila penyebab bentrokan diketahui hanya merupakan hal sepele seperti saling ejek atau beradu tatap.

"Jadi kita berencana untuk tata ulang perkampungan supaya tidak kumuh dan layak, karena nantinya akan ada taman, ruang terbuka hijau dan fasilitas umum lainnya. Masing-masing RW akan dibangun tower rumah susun yang dapat menampung sampai 200 Kepala Keluarga (KK). Lewat kenyamanan yang diberikan, diharapkan konflik tidak kembali terulang, tawuran bisa hilang," terangnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya