Operasi Bibir Sumbing, 30 Menit Mengubah Hidup Penderita

Dede Susianti
26/4/2016 20:40
Operasi Bibir Sumbing, 30 Menit Mengubah Hidup Penderita
(MI/Dede Susianti)

Destri Rihadi, 4 bulan, bayi perempuan anak pasangan Rinawati dan Sopyan Hadi, tampak tenang dalam gendongan Enah, neneknya. Padahal, saat itu ditangan bayi mungil itu terpasang selang infus.

Lain halnya dengan Muhamad Rasya Hadi, 1 tahun 4 bulan, putra pasangan Siti Nurfadilah dan Muhamad Nursin yang terlihat rewel. Meski duduk di pangkuan sang bunda, Rasya terus menangis. Di tangannya pun sama terpasang selang infusan.

Kedua balita itu tengah bersiap untuk dioperasi sumbing bibir dan langit-langit di ruang tunggu depan ruang operasi Rumah Sakit Lanud Atang Sandjaya, Bogor.

Di sebelah ruang operasi, atau tepatnya ruang observasi, Adelio Pramudia, 9 minggu, tampak tenang terbaring di sebuah tempat tidur. Didampingi seorang suster, Adelio baru saja selesai dioperasi.

Ya, mereka ialah tiga dari 12 pasien dengan 16 kasus sumbing bibir dan langit-langit yang dioperasi hari itu, atau Selasa (26/4), pada kegiatan bakti sosial (baksos) rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).

"Untuk hari ini ada 12 pasien yang dioperasi. Dari 12 pasien ini ada 16 kasus, artinya ada satu pasien yang menderita sumbing bibir juga langit-langit," kata Kepala RS Lanud Atang Sandjaya Letnan Kolonel Kesehatan dr Mukti A Berlian.

Dia menyebutkan ke-12 pasien itu berasal dari berbagai daerah. Selain dari daerah Bogor dan sekitar Lanud ATS, juga ada dari luar pulau seperti dari Ketapang, Kalimantan.

"Pasien sudah menginap semalam di sini. Setelah itu akan kita rawat sampai layak dan benar-benar boleh pulang. Semua ini gratis," tuturnya.

Dalam baksos tersebut, RS Lanud ATS tidak sendiri. Ada keterlibatan sejumlah dokter ahli dari Yayasan Bhakti Indonesia dan bekerja sama dengan Yayasan Media Group dan Smile Train Indonesia.

Ruth Advencya Monalisa, Program Director Smile Train Indonesia, mengatakan peran dari semua pihak yang bekerja sama dalam kegiatan baksos itu sama besarnya.

Dia menyebutkan, baksos tersebut dijembatani Yayasan Media Grup. "Jembatannya dari Media Group. Awalnya dari kegiatan baksos di Ambon, Sulawesi, dan Kalimantan. Media Group juga tangani katarak. Dari situ sampai lah kami di sini, di kegiatan ini," ungkap Mona.

Sejak 1999 di dunia dan di Indonesia sejak 2007, lanjut dia, Smile Train memang peduli dengan masalah kesehatan, termasuk dalam penanganan terkait sumbing bibir. Sejak berada di Indonesia, Smile Train sudah menangani atau mengoperasi lebih dari 53 ribu penderita bibir sumbing, dari Aceh hingga Manado.

Dia menyebutkan bibir sumbing di Indonesia 700 banding 1. Artinya, dari kelahiran 700 orang, ditemukan satu kasus bibir sumbing. Dia menjelaskan, pasien sumbing bibir dan langit-langit memiliki masalah dan merasa menderita dalam hal makan, bernafas, dan berbicara. Kemudian secara psikilogis, mereka juga kerap menerima hinaan dan ejekan.

"Kami sering menemukan pasien umur 9 tahun hingga 17 tahun tidak sekolah hanya karena sumbing bibir. Padahal, mudah dikoreksi (dioperasi). Hanya 30-40 menit koreksi atau operasi selesai. Dengan 30 menit itu sudah mengubah mereka seumur hidupnya," kata dia.

Hal itu lah yang menjadi alasan pihaknya konsen terhadap penderita kasus sumbing bibir dan langit-langit. "Karena itu kami fokus, lebih fokus. Mereka bisa dapat senyum baru dan produktif di lingkungannya dan dihargai. Dengan waktu kurang dari satu jam saja sudah mengubah masa depan mereka."

Sementara itu, Komandan Lanud ATS Marsekal Pertama Hari Budianto mengatakan kegiatan tersebut merupakan kali kedua dilakukan pihaknya. Dia pun mengisahkan pengalaman yang sangat berkesan mendalam di hatinya, kaitannya dengan baksos sumbing bibir yang lalu. Ternyata apa yang dilakukannya dan pihaknya saat itu memang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

"Sudah dibuktikan pada saat saya jadi komandan skuadron. Ada pasien sumbing bibir di Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi. Dia sudah berumur, perempuan dan tidak laku-laku (belum kawin). Saya bawa dan dioperasi. Setelah itu, kehidupannya pun bahagia. Kini sudah menikah dan punya dua anak. Saya turut senang," kenangnya.

Dia mengatakan kehadiran Lanud ATS dan RS ATS bukan hanya untuk lingkup ATS, tapi secara luas. "Lanud untuk majukan semua masyarakat. Di sekitar Bogor, dan empat wilayah cakupan dan semua masyarakat di mana saja. Ini sekarang saya dapat lagi pasien 8 orang dari Pandeglang, yang akan dioperasi mendatang," katanya.

Senada dengan diungkapkan Ketua Yayasan Media Group Ali Sadikin. Menurutnya, bakti sosial ini sebagai cara peduli dan membantu masyarakat. Dia mengatakan karakter bangsa kita yakni gotong royong, jadi dengan baksos bisa membantu. (DD/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya