Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH satu pekan lebih disemayamkan di kamar mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tangerang, jenazah Nur Atika, 34, yang dibunuh dengan cara sadis ((mutilasi) di rumah kontrakannya di Kampung Telaga Sari, Desa Telagasari RT 12/01, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (22/4) petang akhirnya dibawa pulang oleh pihak keluarga ke kampung halaman.
"Keluarga besar almarhumah, sudah menunggu di rumah, Desa Kadujajar, Malingping, Banten," kata Rasyim Al Rosyid, kakak ipar korban, saat menerima penyerahan jenazah korban dari pihak Polres Kabupaten Tangerang di RSUD Kabupaten Tangerang.
Rencananya, kata Rasyim, jenazah korban akan di makamkan di TPU Desa Kadujajar, Sabtu (23/4) besok. "Kami dan keluarga besar korban berharap agar si pembunuh sadis itu (Kusmayanto alias Agus) dihukum setimpal atau mati," katanya.
Pasalnya, kata Rasyim, tindakan pelaku sudah melebihi binatang, yaitu memotong-motong tubuh korban yang sudah mati. "Tindakan ini sangat tidak manusiawi dan pantas dihukum mati," kata Rayim berulang kali.
Lebih jauh Rasyim mengatakan, terakhir kali bertemu korban pada Desember 2015 lalu. Namun, korban yang merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Nurjaya (alm) dan Ny Ida, 55, merantau ke Tangerang sejak 2012 lalu, untuk bekerja di rumah makan (RM) Padang Gumarang di Desa Cibadak, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, tidak pernah bercerita apa-apa. Termasuk soal hubungan dengan rekan-rekan di tempat kerjanya.
"Almarhumah orangnya tertutup. Saya baru dengar ia punya hubungan intim dengan pelaku, ketika peristiwa ini sudah terjadi. Itu pun melalui tayangan televisi," tuturnya.
Biasanya, tambah Rosyim, korban yang pernah bekerja sebagai TKW di Arab Saudi beberapa tahun lalu, pulang ke kampung halamannya di Malimping, Banten, sebulan sekali. Itu pun hanya untuk menegok atau memberi nafkah kepada orangtua beserta kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD. Sebab, kata Rasyim, begitu cerai dengan suaminya, Tony pada 2011 lalu, korban menjadi tulang punggung keluarga.
Sementara itu, Wakapolres Kota Kabupaten Tangerang Ajun Komisaris Besar Mukti Juarsa mengatakan, pihaknya menyerahkan jenazah korban mutilasi kepada keluarganya, setelah hasil tes DNA korban beserta orangtua dan kedua anaknya terdapat kesamaan.
"Hasil tes DNA korban Cocok dengan kedua anak dan orangtuanya. Karenanya jenazah itu kami serahkan untuk dimakamkan di kampung halamannya di Malingping," kata Wakapolres. (SM/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved