Wali Kota Bogor Resmi Permanenkan Sistem Satu Arah

Dede Susianti
18/4/2016 22:26
Wali Kota Bogor Resmi Permanenkan Sistem Satu Arah
(ANTARA/ARIF FIRMANSYAH)

SETELAH hampir 18 hari uji coba, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akhirnya mengambil keputusan pasti soal Sistem Satu Arah (SSA) di seputar Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor (KRB).

Melalui rapat evaluasi SSA yang digelar di Bogor Green Room, Balai Kota, Senin (18/4), Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto memutuskan memberlakukan SSA secara permanen.

Keputusan itu, kata Bima, berdasar atau kesimpulan dari hasil rapat evaluasi. Untuk memperkuat keputusan itu, pihak Pemkot akan segera merumuskan payung hukum penerapan SSA dalam bentuk Peraturan Wali Kota Bogor (Perwali). Selain akan segera melakukan sosialisasi dan perbaikan-perbaikan infrastruktur.

Hal itu dilakukan karena masih banyak catatan dalam penerapan SSA tersebut. "Ada beberapa catatan. Yang pertama adalah evaluasi yang disampaikan dari dinas maupun dari tim peneliti mahasiswa tentang kondisi riil keadaan jalan. Disimpulkan bahwa keadaan jalan tidak saja di koridor utama dan koridor pendukung, level of service-nya naik. Waktu tempuh juga bertambah signifikan," papar Bima.

Bima menyebutkan, banyak catatan khusus untuk penerapan SSA tersebut, seperti pertambahan kecepatan kendaraan yang perlu diantisipasi. Kemudian adanya hambatan di sejumlah titik lokasi, dan kapasitas jalan yang perlu diperbaiki, kurangnya rambu-rambu, serta friksi trayek angkot yang harus ditata ulang rute mereka (rerouting).

Hal lain yang juga dianggap Bima sebagai pekerjaan rumah ialah soal car free day (CFD). Karena lokasi CFD yakni Jalan Jalak Harupat terkena SSA. Sudah dua kali CFD ditiadakan tanpa disiapkan lokasi lain sebelumnya.

"PR kita juga bagaimana menentukan lokasi car free day. Namun, secara umum saya kira bisa disimpulkan berdasarkan kajian di lapangan dan penelitian bahwa SSA ini, insya Allah akan kita berlakukan secara permanen," jelasnya.

Wali Kota juga mengatakan, ada program lain yang harus segera dilakukan seiring dengan penerapan SSA secara permanen. Program turunan SSA itu yakni reouting angkutan kota (angkot). Dalam penerapan SSA ini, diakui Bima, bukan suatu hal yang mudah. Kendati demikian, pihaknya optimistis.

"Saya kira itu. Perubahan memang tidak selalu mudah, pasti penuh dengan tantangan. Tapi insya Allah kalau dihadapi bersama tidak ada yang tidak mungkin," pungkasnya.

Rapat dihadiri Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman, Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip Hidayat, sejumlah kepala dinas, kepala bidang, kepala bagian, Organda, perwakilan dari pihak Istana Bogor, pimpinan unsur Muspida lainnya, dan juga dari DPRD Kota Bogor.

Reaksi yang ditunjukkan berbagai elemen dengan keputusan permanen SSA hampir senada yakni sudah diprediksi. "Dari awal saya sudah yakin ini mah akan permanen. Uji coba-uji coba itu yah bisa dikatakan formalitas saja. Sudah keukeuh kelihatannya dari semenjak diperpanjang. Padahal, semuanya menurut saya belum siap. Tepatnya belum dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Semua dilakukan berbarengan dengan saat uji coba, bahkan sampai sekarang resmi dipermanenkan pun jauh dari kata siap," tutur Ahmad Ramadhan, salah seorang warga yang juga pengguna angkot.

Bahkan, reaksi sejumlah sopir dengan trayek berbeda yang ditemui Media Indonesia, Senin (18/4) sore, hampir sama dan menyatakan pasrah. "Ya sudahlah, protes sudah tapi suara kita juga nggak didengar. Saya juga sudah menebak, pasti jadi," ungkap salah seorang supir angkot trayek 03 (Bubulak-Baranangsiang).

Bahkan sebuah petisi online melalui https://www.change.org/p/bimaaryas-hentikan-uji-coba-sistem-satu-arah-bogor-dan-kembalikan-jalur-seperti-semula?recruiter=523117232&utm_source=share_petition&utm_medium=whatsapp, tidak berdampak pada keputusan Bima. Padahal, hingga Senin sore petisi ini sudah didukung sebanyak 908 orang. (DD/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya