Dengan Bisindo,Kutahu Maumu

Nelly Marlianti
18/4/2016 09:10
Dengan Bisindo,Kutahu Maumu
(Aktivis Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) melatih bahasa isyarat kepada warga--MI/Rommy Pujianto)

ENAM kursi berjejer saling berhadapan di depan Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat. Dua orang terlihat memainkan kedua tangannya, seperti menari saling berbalas, membuat kode-kode yang melahirkan satu pengertian di antara mereka, dan bagi yang mengerti.

Peragaan yang ditampilkan Peter Andika, 26, tunarungu sejak lahir saat car free day (CFD) kemarin (Minggu 17/4), menyita perhatian ratusan pengunjung.

Ia sibuk memperlihatkan modul yang berisi angka, huruf, dan warna, sambil mengerak-gerakan tangannya. Wajahnya bersahaja dan antusias mengajarkan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) pada pengunjung CFD. Meski mengunakan isyarat, komunikasi antara Peter dan pengunjung CFD nampak cair. Ia sesekali tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya.

Minggu ini merupakan pekan ke-4 bagi Peter dan puluhan kawannya yang tergabung dalam Gerakan Kesejahteraan Tunarunggu Indonesia (Gerkatin) membuka kegiatan belajar Bisindo di CFD.

"Kami ingin sosialisasi memberikan pemahaman bahwa bahasa isyarat ini merupakan bahasa identitas tunarungu," ungkap Peter dengan bantuan penerjemah.

Menurut Peter, kaum tunarungu selama ini sebagaimana yang dia alami kerap mendapat diskriminasi. Bahkan, dia sempat keluar dari kampusnya di salah satu universitas swasta di Jakarta karena metode pengajarannya tidak ramah pada mereka. Padahal, Peter cukup berprestasi di sekolah. Dia mampu menjadi juara pertama melukis se-Provinsi Wonosobo beberapa tahun lalu.

"Dengan mengajarkan bahasa bisindo ini, kami ingin membuat masyarakat sadar bahwa di sekeliling mereka ada orang tunarungu. Kami ingin bahasa isyarat ini (Bisindo) diakui masyarakat," harap Peter.

Di area CFD, pengunjung yang tertarik mempelajari Bisindo umumnya memerlukan waktu sekitar 5-10 menit untuk memahaminya sebab yang dijarkan memang yang paling dasar dan mudah. Karena targetnya ialah untuk menyosialisasikan Bisindo. Pengunjung baru diajarkan alfabet dalam Bisindo Jari, dan tangan akan saling membentuk huruf alfabet. Selanjutnya, pengunjung akan diajarkan warna-warna dan angka. Barulah kemudian diajarkan cara percakapan.

"setelah belajar, pengunjung akan diberikan kartu yang akan diberikan level. Jadi, setiap minggu pengunjung bisa meneruskan levelnya ke jenjang yang lebih tinggi," jelasnya.

Dalam setiap pekan, Peter dan teman-temannya mengajar pengunjung CFD sejak pukul 06.00 hingga pukul 10.00. Lebih dari 50 orang pengunjung CFD yang mengikuti belajar Bisindo gratis ini. "Kami akan terus ada disini membuka area pengajaran Bisindo," imbuhnya. Harapannya, dengan Bisindo masyarakat bisa berkomunikasi dengan kalangan tunarungu.(J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya