Ernan Hapus Unggahannya soal Kecurangan UNBK di Bogor

Dede Susianti
12/4/2016 21:55
Ernan Hapus Unggahannya soal Kecurangan UNBK di Bogor
(Dok. MI)

MANTAN Dekan Fakultas Pertanian yang kini juga masih aktif sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB), Ernan Rustiadi, tengah dihadapkan pada sebuah dilema.

Ini terkait unggahannya di media sosial Facebook (FB) pada Sabtu, 9 April lalu, sekitar pukul 20.22 WIB, tentang kecurangan pada Ujian Negara (UN) di tingkat SMA yang baru berlalu.

Pada saat itu, pakar tata ruang dan perkotaan itu mengunggah curhatannya terkait dugaan oknum guru yang membocorkan soal jawaban UN. Curhatannya itu berjudul 'Tragedy Of The Commons'. Inti dari curhatannya dia merasa prihatin sekaligus sedih atas peristiwa anaknya.

Ernan menuliskan cerita tentang anaknya yang duduk di kelas III SMAN I Bogor yang merasa risau dan menangis seusai mengikuti UN Berbasis Komputer (UNBK).

"Beberapa hari lalu, pulang ujian menangis karena setelah ujian hari itu dia mencocokkan jawaban dengan teman-temannya. Jawabannya tidak sebaik teman-temannya yang memiliki bocoran soal," demikian sepenggal dari curhatannya.

Karena unggahannya itu, sang mantan dekan pun diundang untuk hadir oleh pihak sekolah (SMAN 1d), dan termasuk di dalamnya dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor. Dia akhirnya memenuhi undangan tersebut pada Senin (11/4) sore.

Tidak perlu waktu lama atau setelah pertemuan usai atau tepatnya Senin (11/4) sekitar pukul 18.52 WIB, sang mantan dekan itu kembali menulis di laman jejaring pertemanan FB dengan akun Ernan Rustiadi. Hanya saja, ada sedikit yang berbeda jika dilihat dari isinya. Dia menulis hasil pertemuan itu.

Ada beberapa hal yang dia sampaikan, di antaranya dia menyebutkan sore tadi menjumpai Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor (Sri Eningsih) dan Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor (Fahrudin).

Keduanya, tulis dia, menegaskan bahwa praktik kebocoran soal UN tidak terjadi. "Bu Kepsek kemarin, memantau langsung di sekolahnya dan memastikan ada pengakuan tertulis dari seluruh petugas sekolah bahwa tidak ada kasus kebocoran soal Ujian di SMAN 1," demikian salah satu kalimat yang ditambahkan Ernan ke dalam unggahan barunya.

Dia juga menulis; "Pak Fahrudin melakukan tugas pengawasan rutin dan juga atas perintah pak wali mengecek langsung. Disampaikan bahwa sistem komputer dengan soal yang diacak sehingga setiap siswa punya soal yang berbeda".

Di paragraf terakhir unggahannya, sang mantan dekan menuliskan, "Saya menyampaikan suasana keprihatinan keluarga saya karena seorang anak yang sedang menempuh ujian harus berhadapan dengan simpang siur kebocoran soal ujian. Semoga kita semua dapat terus meyakinkan anak-anak kita untuk terus percaya pada kejujuran dan menjauhkan mereka dari suasana dan godaan-godaan kecurangan. Saya yakin manusia akan semakin baik dengan mengambil hikmah dari situasi-situasi seperti ini. Terimakasih Bu Sri Eningsih dan Pak Fahmi (Fahrudin) atas penjelasannya".

Unggahan hasil pertemuan itu hingga saat ini atau Selasa (12/4) sekitar pukul 19.11 WIB, masih bertengger dan mendapat tanda suka sebanyak 173 dan 14 komentar.

Namun, ada hal lain yang terjadi. Unggahan curhatannya berjudul 'Tragedy of The Commons' yang hingga Senin (11/4) sekitar pukul 19.28 WIB, sudah ada 69 komentar dan dibagikan sebanyak 420 kali, sirna alias sudah tidak ada lagi di akunnya itu. Padahal, sebagian besar komentarnya menuliskan dukungan.

Rupanya, oleh sang empunya akun, unggahan curhatannya itu telah dihapus pada Selasa (12/4) pagi. Hilangnya postingan itu sempat ramai dan jadi bahan pembicaraan di kalangan wartawan di sebuah grup WhatsApp. Saat itu, atau sekitar pukul 9.00 WIB, seorang wartawan baru tersadar bahwa unggahan itu sudah hilang dan tersisa hanya unggahan hasil pertemuan dan unggahan sebelum-sebelumnya.

Di antara rentang waktu pukul 6.00 WIB hingga pukul 9.00 WIB itu lah sang mantan dekan menghapusnya. Karena salah seorang wartawan menyaksikan unggahan itu masih ada pada sekitar pukul 5.30 WIB.

Percakapan di grup WhatsAPP itu pun berkembang akan kemungkinan adanya tekanan terhadap Ernan yang sedang memperjuangkan nilai kejujuran pada anaknya, dunia pendidikan, seperti curhatan yang diunggahnya.

Saat dimintai konfirmasi Ernan membenarkan semuanya. Baik soal pertemuan dan hasilnya, juga soal penghapusan unggahan curhatannya.

"Iya kemarin saya sudah dapat penjelasan dari kepsek yang menegaskan bahwa tidak ada kebocoran soal ujian. Betul mas. Saya menghapus (unggahan di) FB tersebut semata-mata atas permintaan anak saya sendiri," kata Ernan melalui pesan singkatnya Selasa sore.

Ernan enggan menjawab mengenai kondisi sang anak apakah ada tekanan atau sejenisnya dari pihak sekolah maupun lingkungan teman-temannya. "Ya mas. Intinya saya menghormati permintaan anak saya yang sangat saya sayangi. Sekarang saya belum bertemu anak saya, dia masih di sekolah. Ya mas. Terimakasih atas support teman-teman pers yang sama-sama memimpikan pendidikan yang menjunjung kejujuran dan integritas,".

Sementara itu, bantahan soal tuduhan awal Ernan juga dikeluarkan pihak sekolah. Melalui pesan singkatnya, Kepsek SMAN 1, Sri Eningsih, menegaskan tidak ada kebocoran soal UNBK di sekolahnya, juga termasuk adanya oknum guru yang diduga membocorkan. Menurutnya, beritu itu bohong dan fitnah.

"Kami melaksanakan UNBK (online), semua sudah diatur sistem dengan sekuritas tinggi," katanya.

Dia mengatakan tulisan di FB pak Ernan tidak bisa dipertanggung jawabkan. "Kami sudah lakukan cek di lapangan dan tidak terbukti apapun dari tulisannya,".

Sedangkan menanggapi tulisan itu, pihaknya mengakku masih melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak yang terkait. "Benar, kami sedang berkoordinasi dengan disdik untuk mengambil langkah-langkah. Mengingat guru-guru dan anak-anak juga gelisah tidak dapat menerima tulisan FB Pak Ernan," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bogor, Edgar Suratman, mengatakan bahwa berdasarkan laporan dari sekretarisnya, Ernan sudah menyatakan permintaan maaf. Saat itu pula sudah ada kesepakatan agar Ernan merevisi unggahannya di FB. "Harus di-posting lagi permintaan maaf seperti disampaikan ke Pak Sekdis tadi. Isu itu. Jadi mereka kekhawatiran saja," katanya melalui sambungan telepon selulernya.

Soal tekanan, Edgar membantahnya. Bahkan dengan nada tegas, dia menyatakan dari pihaknya tidak pernah menekan. "Oh enggak ada. Tanyakan saja ke Pak Ernan. Tanya, tanya. Enggak ada itu," pungkasnya. (DD/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya