Mantan Dekan IPB Unggah Curhatan Kecurangan UNBK di FB

Dede Susianti
11/4/2016 21:05
Mantan Dekan IPB Unggah Curhatan Kecurangan UNBK di FB
(ANTARA/MOCH ASIM)

MANTAN Dekan Fakultas Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kini masih aktif menjadi dosen Ernan Rustiadi curhat soal kecurangan yang terjadi pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kota Bogor.

Curahatan itu diunggah sang mantan dekan di jejaring pertemanan Facebook (FB) melalui akun pribadinya, Ernan Rustiadi, pada 9 April, pukul 20.22 WIB.

Begitu banyak reaksi dari unggahan Ernan yang dikenal sebagai pakar Tata Ruang itu. Sampai Senin (11/4) pukul 19.28 WIB sudah 69 komentar dan dibagikan sebanyak 420 kali. Beberapa komentar menuliskan dukungan mereka terhadap Ernan.

Seperti yang ditulis Muhammad Sarjan: 'Great pak Ernan. Siapa lagi yang akan berjuang untuk nilai kejujuran di dunia pendidikan kalau bukan kita-kita. Kita harus konsisten dengan berbagai konsekuennya. Hayo rapatkan barisan untuk menyelamatkan generasi bangsa. Gimana. kita bisa menciptakan generasi emas, kalau para guru juga bisa ikut terlibat dalam menciptakan ketidakjujuran secara sistematis. Saya ikut bersedih atas peristiwa ini'.

Faceboker lainnya yang berkomentar mendukung John M Sinturi: 'Setuju100% dgn bpk Ernan Rustiadi. Mari meneruskan perjuangan kejujuran. Semoga pendidikan di NKRI mengutamakan nilai-nilai dasar yang benar, bukan nilai-nilai kebohongan.

Inilah detilnya curhatan sang mantan dekan yang diberi judul "TRAGEDY OF THE COMMONS".

'Percayalah, "kejujuran dan integritas di dunia pendidikan" adalah barang publik yg paling berharga dimiliki bangsa ini. Ketika kita gagal mempertahankannya maka kita sama2 akan gagal memanen generasi penerus hasil dari proses berkualitas.

Anakku duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, saat ini tengah menempuh ujian nasional berbasis komputer (UNBK) begitu risau. Bbrp hari lalu pulang ujian menangis karena setelah ujian hari itu dia mencocokan jawaban dg teman2nya, jawabannya tdk sebaik teman2nya yang memiliki bocoran soal. Dia khawatir masuk dalam kelompok bernilai terburuk karena teman2nya sdh memilik bocoran jawaban. Malam ini dia meminta pertimbanganku apakah besok di hari minggu perlu mengikuti saran gurunya utk mengambil bocoran soal yg akan dibagikan guru di sekolahnya?

Sebagai mantan dekan di IPB yg terlibat dalam seleksi mahasiswa baru, saya tahu betul tidak ada perguruan2 tinggi besar yang mau dibodohi dengan menggunakan hasil ujian UN dalam seleksi mahasiswanya, karena nilai UN tdk konsisten dengan indikator2 prestasi siswa lainnya. Anakku menjadi lebih tenang karena kedua orangtuanya mendukung anaknya untuk memilih kejujuran.

Namun masalah berikutnya sekarang dia di "bully" banyak teman2nya karena sbg minoritas dia jadi sasaran ejekan karena dianggap "sok" jujur. Saya akui, saya menceritakan ini ke khalayak umum tanpa melakukan pencarian fakta di lapangan. Tapi cerita ini sdh diketahui oleh khalayak banyak sejak lama. Pihak yang berwenang di negeri ini terus membiarkan kejadian ini terulang.

Inilah tragedi atas harta (barang publik) yang terlalu berharga untuk kita diamkan tergerus waktu, harta itu adalah "kejujuran dan integritas di dunia pendidikan". Dalam kapasitas sy sbg orangtua saya pertaruhkan kejujuran itu di rumah sendiri. Para pejabat yang berwenang, dengan kapasitasnya masing2 ayolah bertindak. Cegahlah guru2 ikut larut dalam ketidakjujuran. Tindak tegas para pembocor soal jawaban....Ayo bertindak'. (DD/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya