Keluhkan Sistem Satu Arah, Sopir Angkot di Bogor Mogok

Dede Susianti
07/4/2016 20:45
Keluhkan Sistem Satu Arah, Sopir Angkot di Bogor Mogok
(ANTARA)

DI hari ketujuh masa uji coba Sistem Satu Arah (SSA) yang merupakan program pengurai kemacetan dari Wali Kota Bogor Bima Arya mendapat penolakan dari sopir angkutan kota (angkot).

Sepanjang Kamis (7/4), sopir angkot dari sejumlah trayek melakukan aksi mogok operasi. Bahkan, sejumlah sopir pun melakukan aksi sweeping dan mengajak sopir-sopir lainnya untuk ikut serta. Tidak sedikit di antaranya yang melakukan pemaksaan dengan meminta para penumpang untuk turun. Akibatnya, para penumpang pun telantar.

"Tadi saya diturunin, padahal sudah di Jalan Otista mau ke Bank BNI di Juanda. Yang nurunin sopir lain, dia ngajak sopir angkot yang saya tumpangi," kata Zakiyah, yang sedang menumpang angkot 06 trayek Ciheuleut-Ramayana.

Para sopir yang mogok itu menolak kebijakan SSA seputar Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Menurut mereka, sedari awal diberlakukannya uji coba selama 4 hari dan kemudian diperpanjang hingga dua pekan ke depan, atau hingga Jumat (18/4) mendatang, telah merugikan pendapatan mereka.

Kebijakan itu juga dianggap berpotensi memicu konflik antarpengemudi angkot yang berlainan trayek hanya karena berebut penumpang.

Angkot yang mogok beroperasi dan sempat melakukan sweeping di Jalan Otista dan Jalan Pajajaran, tepatnya depan eks Gedung Balai Binarum itu, ada 5 trayek, yakni 01, 21, 13, 11, dan 06.

"Sopir-sopir dirugikan. Tidak bisa nunggu penumpang lagi, kita berebut penumpang. Penumpang juga pada ngomong. Ada yang bilang enak, ada yang bilang nggak enak, tapi kebanyakan bilang nggak enak. Mereka mengeluh kesiangan. Setoran kita juga jadi kurang, pemilik rugi kita juga rugi," kata Misbah, salah seorang sopir angkot 11 yang ditemui di sela aksi para sopir di depan eks Balaibinarum.

Dia mengatakan, saat ini pendapatannya sehari kurang dari Rp100 ribu. "Semenjak diputar balik begini, jangankan buat sendiri, buat setoran juga kurang. Apalagi buat bensin, jangan ditanya. Biasa santai sekarang gak bisa santai, karena terlalu dekat. Terburu-buru dan rebutan," ungkap Misbah.

Sopir angkot 11 lainnya, Asep Awaludin, menambahkan, saat ini rit bertambah, tapi sepi penumpang. Bensin bertambah, tapi pendapatan dan setoran berkurang.

"Kata saya mah daripada perubahan jalur, SSA begini, lebih baik penertiban parkir liar. Sekarang titik macet di Pasar Bogor. Jalur seperti biasa lagi. Tertibkan parkir liar dan PKL di pinggir jalan. Jadi trayek 11 mati. Ada 48 angkot di trayek 11 ini di shif tiga. Sekali narik ada 27 angkot. Benar-benar mengurangi pendapatan," ungkapnya.

Kebijakan Pemkot ini, menurutnya, menyusahkan penumpang dan membuat para sopir menderita. Bahkan dengan nada kesal, dia menghujat Wali Kota Bima Arya.

"Kita dapat Rp60 ribu, Rp70 ribu juga sudah ngurangi setoran. Sekarang masuk (Jalan) Padjadjaran sudah rebutan, tadinya buat 11, sekarang naik trayek lain. Buat petinggi-petinggi Kota Bogor, normalin kembali. Kalau mau urai macet, penertiban yang lain saja,".

"Ke depan Bima Arya mau ngapain lagi, mau ngerusak, ngehancurin apa lagi. Sudah trayek dirusak, terus mau ngehancurin angkot juga. Angkot kan ikon kota ini," katanya.

Sementara itu, Fredi, Wakil Ketua DPC Organda yang juga menjabat sebagai Ketua KKU Bogor Timur, mengatakan, aksi mogok para sopir disebabkan minimnya pendapatan dan terjadi perebutan penumpang dan sejumlah hal laim. Namun, setelah berkomunikasi, kata dia, kini mereka sepakat untuk membahas apa yang menjadi keluhan di trayek masing-masing. Kemudian nanti akan diteruskan ke Organda dan dibahas dengan DLLAJ.

"Ada beberapa hal. Contoh trayek 01, minta ngetem di depan Botani Square. 11 dan 13 minta diperbolehkan naik ke atas atau sampai Ekalokasari. Kemudian begitu juga dengan 06 dan 10 yang minta diubah trayeknya. Karena saat ini menjadi lebih pendek," ungkapnya.

Dengan kondisi itu, mereka mengalami kerugian akibat pendapatan yang berkurang selain juga memicu konflik lantaran jalurnya menjadi bersinggungan dengan sopir angkot trayek lain. Semua itu, kata Fredi, akan disampaikan besok ke Organda.

"Mereka butuh kepastian dan kenyamanan dalam berusaha. Karena setelah uji coba SSA ini, sekarang 1 penumpang direbutin 13 trayek karena sekarang jadi satu arah, dan 13 trayek berbarengan," jelasnya.

Dia mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan data hingga 15 April atau sebelum uji coba berakhir 18 April.

Sementara itu, di beberapa kesempatan, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan bahwa uji coba SSA merupakan momen yang tepat untuk melakukan penataan lalu lintas dan mengurai kemacetan di Kota Bogor.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah kota telah berusaha mencari sistem terbaik untuk mengatasi kemacetan yang kian dikeluhkan warga kota hujan tersebut, dan juga bagi warga pendatang. "Sehari akibat kemacetan, kerugian materil capai Rp1,5 miliar. Kami tidak mungkin diam saja tetapi harus memikirkan dan bekerja keras mana format yang paling ideal," ujar Bima.

Menurut Bima, pemerintah tidak hanya mengandalkan SSA sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi kemacetan. "SSA tidak mungkin berhasil tanpa disertai yang lain. Dan bagi saya, SSA ini momentum untuk melakukan pembenahan secara total. Parkir sembarangan, parkir liar, turun naik angkot sembarangan, penataan PKL dan semuanya," katanya. (DD/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya