Elektabilitas Ahok Untungkan Parpol

Nelly Marlianti
31/3/2016 08:16
Elektabilitas Ahok Untungkan Parpol
(Antara/Yudhi Mahatma)

POPULARITAS dan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang berdasarkan sejumlah hasil survei selalu menjulang, akan menguntungkan partai politik (parpol).

Jika parpol bergabung dengan tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi, berdasarkan teori coattail effect, elektabilitas parpol pun akan terdongkrak.

Oleh karena itu, Ahok diprediksi menjadi buruan parpol. "Secara ilmiah berdasarkan coattail effect, calon yang berelektabilitas tinggi dan populer akan berimbas pada partai pendukung," jelas Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, dalam diskusi dan pemaparan hasil survei bertajuk Siapa Berani Lawan Ahok, di Jakarta, kemarin (Rabu, 30/3)

Coattail effect, imbuhnya, sering terjadi di Indonesia. Misalnya, elektabilitas Joko Widodo (Presiden RI) yang mendongkrak elektabilitas PDIP pada Pemilu 2014, serta elektabilitas mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendongkrak suara Partai Demokrat pada pemilu sebelumnya.

"Begitu juga dengan elektabilitas Gerindra yang melonjak karena sosok Prabowo Subianto. Jadi, partai yang akan mendukung Ahok pada pilkada nanti akan mendapatkan keuntungan dari elektabilitas bersangkutan," papar Yunarto.

Apalagi, tambahnya, saat ini kepercayaan masyarakat kepada parpol sedang menurun mengingat tidak adanya partai yang dianggap benar-benar menjalankan fungsinya. "Ini adalah bagian dari kritik terhadap parpol yang selama ini kurang dipercaya masyarakat, bila ada partai yang mendukung calon independen akhirnya mendapatkan limpahan persepsi positif dari publik," cetusnya.

Survei melibatkan 400 responden dengan margin of error atas dan bawah sekitar 4,9%. Berdasarkan simulasi 5 nama, elektabilitas Ahok masih dominan (54,3%). Ia jauh meninggalkan bakal calon lain seperti Yusril Ihza Mahendra 14,5%, Tri Rismaharini 9%, Adhyaksa Dault 2,5%, dan Sandiaga Uno 2,5%. "Dari nama-nama yang muncul, hanya Yusril yang mampu menyaingi elektabilitas Ahok karena bisa menembus dua digit."

Selanjutnya, ucap Yunarto, jika disandingkan head to head dengan Ahok, Yusril memiliki potensi tertingi, yakni meraih 20,5%, dan Ahok 59,5%. Antara Ahok dan Risma, Ahok meraih 60,3% dan Risma 19,3%.

"Ahok selalu berada di atas 50%. Ini menunjukkan, seandainya Pilgub DKI Jakarta dilaksanakan hari ini, siapa pun lawannya, Ahok berpotensi memenangi pertarungan satu putaran," paparnya.

Survei juga mengungkap sejumlah nama bakal cawagub. Djarot Saiful Hidayat berada di posisi tertinggi dengan 11,8%. Yang menarik, terdapat 7,5% yang mendukung Abraham Lunggana (Lulung) sebagai wakil gubernur.

Jalur parpol
Meski belum resmi menentukan nama bakal calon yang akan diusung dalam pilkada DKI Jakarta, PDIP menyatakan calon yang diusung mesti melalui jalur parpol. Pertimbangannya, perumusan kebijakan di pemerintahan membutuhkan dukungan dari dewan yang merupakan representasi parpol.

"PDIP hanya akan mencalonkan mereka yang bersama PDIP menempuh jalan kepartaian untuk rakyat," tegas Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.(Kim/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya