Permukaan Tanah di Jakarta Terus Menurun

Sri Cahya Lestari
18/3/2016 23:04
Permukaan Tanah di Jakarta Terus Menurun
(MI/RAMDANI)

PENURUNAN muka tanah sulit dilepaskan dari Jakarta. Penurunan muka tanah secara sederhana bisa dilihat di Gedung OLVEH (Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp) yang merupakan salah satu bangunan yang direnovasi dalam proyek revitalisasi Kota Tua.

Gedung tua yang dulunya merupakan kantor asuransi milik pemerintah kolonial Belanda itu berada di Jalan Jembatan Batu, Pinangsia. Saat gedung tua itu direstorasi, tim pekerja bangunan PT Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) menemukan fakta bahwa lantai dasar asli gedung berusia 94 tahun itu berada 95 cm di bawah permukaan jalan saat ini.

Diketahui, lantai dasar gedung tua itu sudah berkali-kali ditinggikan. Begitu pula rumah-rumah yang berada di belakang kantor itu. Lantai rumah-rumah itu rata-rata sudah ditinggikan pemiliknya.

Pakar hidrologi Universitas Indonesia Firdaus Ali mengatakan, temuan itu menunjukkan betapa pesatnya laju penurunan muka tanah di DKI Jakarta, khususnya di kawasan pesisir utara. Menurut dia, penurunan muka tanah itu belum tentu terjadi sepanjang 95 tahun keberadaan gedung tersebut.

“Bisa jadi, penurunan muka tanah baru terjadi secara pesat dalam 40 tahun terakhir. Untuk mengetahui hal itu, diperlukan kajian lebih mendalam,” ujar Firdaus yang juga adalah Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kepada Media Indonesia, Jumat (18/3).

Ia mengatakan, penurunan muka tanah di Jakarta setidaknya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya, kondisi daratan Ibu Kota yang terus mengalami kepadatan lantaran tingginya laju urbanisasi. Akibatnya, beban daratan Jakarta kian berat dan berdampak terhadap kerusakan lingkungan serta bencana.

Selain itu, ada pula campur tangan masyarakat yang berpengaruh pada penurunan muka tanah, seperti pembangunan gedung pencakar langit serta pengambilan air tanah secara besar-besaran. ”Kini tercatat ada sekitar 12 juta penduduk DKI Jakarta. Mereka mengambil air tanah sekitar 210 juta meter kubik per tahun,” ujar Firdaus.

Ia juga mengungkapkan, di sejumlah titik di Jakarta Utara pun sudah terjadi penurunan muka tanah. Penurunan itu rata-rata mencapai 26-32 centimeter per tahun. ”Salah satu alasan Jakarta harus membangun tanggul laut raksasa atau proyek Pembangunan Pesisir Terpadu Ibu Kota Negara (National Capital Integrated Coastal Development) ialah untuk melindungi Kota Tua supaya tidak tenggelam. Tak ada pilihan lain, kecuali ada ide yang bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. (Sri/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya