Mesin Pembelian Tiket Harusnya Lebih Ringkas

Gana Buana, Sri Cahya Lestari
17/3/2016 11:00
Mesin Pembelian Tiket Harusnya Lebih Ringkas
(MI/Immanuel Antonius)

BAYU, 28, pegawai swasta di wilayah Gondangdia, mengerutkan dahi. Lama tangannya memainkan layar sentuh dari kotak besar berwarna merah di hadapannya. Kotak itu ialah mesin pembelian tiket harian berjaminan (vending machine) kereta rel listrik (KRL) commuter line yang baru dioperasikan selama empat bulan terakhir di sejumlah stasiun.

Setelah menyebutkan stasiun tujuan dengan menyentuh layar monitor, Bayu memasukkan dua lembar uang Rp10.000 ke mesin. Setelah itu keluarlah tiket THB miliknya beserta tiga lembar uang Rp2.000 sebagai kembalian dari uang yang ia bayarkan.

Bayu yang berangkat dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Gondangdia setiap hari kerja itu mengaku kehilangan lebih banyak waktu saat membeli tiket dengan mesin tersebut. Ia merasa lebih nyaman jika pembelian tiket kereta dilakukan di loket manual dan dilayani langsung oleh petugas.

"Ini malah agak lama proses pembelian tiketnya, padahal inovasi baru harusnya mempermudah calon penumpang mendapatkan tiket perjalanannya," kata Bayu saat ditemui, kemarin.

Menurut Bayu, setiap transaksi membutuhkan waktu paling cepat 5 menit. Padahal, saat pembelian tiket perjalanan masih manual, prosesnya tak sampai semenit. "Jadi antrean lebih lama jika dibandingkan dengan pembelian di loket manual," keluhnya.

Kepala Stasiun Besar Bekasi Rohim menjelaskan pengadaan vending machine dimaksudkan untuk meminimalkan <>human error seperti kekurangan uang kembalian atau salah tempat tujuan seperti yang sering terjadi selama ini. Untuk itu, pihaknya masih menugaskan satu petugas untuk berjaga di setiap mesin.

Kondisi serupa juga terjadi di Stasiun Bogor. Pada jam-jam padat, antrean tiket harian berjaminan di depan mesin lebih lambat bergerak daripada antrean tiket manual.

Imbauan petugas agar para penumpang pindah ke antrean vending machine pun seperti tidak digubris. Para penumpang lebih memilih mengantre di loket manual meskipun antreannya lebih panjang dan hanya tersedia dua loket.

"Biarpun antreannya lebih panjang, lebih cepat kalau di loket manual. Saya mau berangkat kerja, harus buru-buru. Kalau bisa secepatnya harus naik kereta," kata Wiwin, 30, salah seorang penumpang.

Dihubungi terpisah, Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Line Jabodetabek (KCJ) Eva Chairunisa menjelaskan pihaknya akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat lebih akrab menggunakan mesin tersebut saat melakukan pembelian tiket.

"Penumpang saat ini masih dalam tahap belajar dan mengenal vending. Karena itu, kami masih menempatkan petugas untuk membantu. Sejauh ini responsnya positif," kata Eva.(J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya