Korban Air Bah Desa Ciherang Butuh Kepastian, bukan Rencana

Dede Susianti
15/3/2016 10:11
Korban Air Bah Desa Ciherang Butuh Kepastian, bukan Rencana
(Lokasi proyek pembangunan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi)--Antara/Arif Firmasyah)

PASCABENCANA air bah yang disebabkan jebolnya tanggul proyek pembangunan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), suasana di Kampung Limus Nunggal, Desa Ciherang Pondok, Caringin, Bogor, masih porak-poranda.

Air bah yang tiba-tiba datang pada Minggu (13/3) itu menyisakan lumpur yang memenuhi semua bangunan di kampung itu. Seluruh rumah warga dan fasilitas umum, seperti gedung majelis taklim, dipenuhi endapan lumpur yang lumayan tebal.

"Taksiran sementara nilai kerugian warga saat ini mencapai Rp800 juta karena banyak fasilitas umum yang juga rusak," kata Kepala Desa Ciherang Pondok, Aldi Wiharsa, kemarin (Senin, 14/3). Semua warganya kemarin bahu-membahu mengeluarkan lumpur dari dalam rumah.

Terkait dengan itu, pihaknya sudah meminta perusahaan yang mengerjakan proyek agar bertanggung jawab untuk memperbaiki rumah warga dan fasilitas umum yang rusak di kampung itu. Ia juga meminta tanggul yang jebol dibangun kembali dengan kualitas yang lebih kuat.

"Sebenarnya semua mendesak. Namun, yang saat ini dibutuhkan warga yang menjadi korban adalah seperti pakaian karena barang-barang mereka hilang terbawa air. Kasihan anak-anak jadi tidak bisa sekolah karena pakaian dan perlengkapan mereka hilang," ungkap Aldi.

Kemarin siang, pertemuan antara warga dan perusahaan pelaksana proyek, PT Posco dan PT PIM, digelar. Dalam pertemuan itu, pihak perusahaan mengaku akan bertanggung jawab serta mengganti semua kerugian yang dialami warga.

"Hasil pertemuannya, pihak perusahaan mau bertanggung jawab. Rencananya mereka akan mengganti semua kerugian. Sayangnya, mereka belum bisa memastikan kapan akan mengganti kerugian itu. Jadi, kepastian itu yang kami tuntut. Jangan hanya rencana," tegas Aldi.

Pada kesempatan itu, Camat Caringin, Rumambi, memaparkan kronologi dan penyebab datangnya air bah yang tingginya bahkan mencapai 4 meter itu. Kejadian itu bermula saat kontraktor hendak membangun jalan di area perbukitan. Sulitnya medan yang berbukit itu membuat perusahaan harus membuat jalan sebagai akses lalu-lalang kendaraan berat. Caranya ialah membuat timbunan tanah antarbukit sehingga jalan akses menjadi rata.

Agar timbunan itu tidak mengganggu jalannya air hujan, perusahaan membangun saluran air. Hanya, lebar saluran yang dibangun itu cuma 2 meter dengan memakai pipa paralon 8 inci. Akibatnya, saluran itu itu tak mampu menampung banyaknya air karena selama dua hari hujan mengguyur wilayah itu.(J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya