Kresek Hitam dan Misteri Seorang Terduga Teroris

Deni Aryanto
22/2/2016 20:19
Kresek Hitam dan Misteri Seorang Terduga Teroris
(Ilustrasi)

WARGA Perumnas Suradita, Desa Suradita, Cisauk, Tangerang tidak begitu merasa terkejut dengan penangkapan Dian Apriana, 39, Minggu (21/2) oleh tim Densus 88. Dua bulan belakangan, warga sudah menyembunyikan kecurigaan gerak-gerik pria yang ternyata diketahui sebagai anggota komplotan Abu Roban tersebut.

Setiap hari, rumah bercat putih nomor 15 yang ditempati Dian nyaris tidak terlihat aktifitas sama sekali. Sekalinya terlihat, penghuni di dalamnya hanya keluar sebentar dan kembali masuk. Selama mendiami rumahnya lebih dari 10 tahun terakhir, terduga teroris tidak pernah sekalipun bertegur sapa apalagi sosialisasi dengan warga.

Di dekat rumah Dian, masih berdiri sebuah pos ronda berukuran sekitar 1,5 x 2 meter. Kayu-kayu pos terlihat masih baru berdiri. Keberadaannya juga sempat membuat warga sekitar gusar. Bukannya karena keberadaan bangunan, namun lebih kepada orang-orang yang memakainya selama seharian terus-menerus.

Menurut Darso, 51, warga setempat, pos kamling itu terus dihuni warga asing baik pagi, siang, maupun malam. Mereka terlihat duduk-duduk sembari main gaplek secara bergantian. Jumlahnya bisa empat sampai enam orang tiap nongkrong.

"Warga enggak ada yang berani menegur. Cuma kita juga awasi. Pos kamlingnya ada persis di samping rumah mas Dian . Mereka pada kumpul tepat sehabis ada teror bom Sarinah," ungkapnya.

Setelah dilakukan penggerebekan di rumah terduga teroris, sontak pos kamling sampai sekarang tidak berpenghuni. Namun bangunan masih juga berdiri. Warga menduga, puluhan orang tersebut merupakan anggota kepolisian yang sengaja menyamar untuk memantau pergerakan pelaku.

"Saya sih menduga yang kemarin polisi. Soalnya sekarang udah enggak ada. Sebelumnya mah pos ronda enggak pernah sepi sama sekali, katanya.

Selama dua bulan terakhir, warga juga terus mengamati aktivitas Dian di luar rumah. Pelaku hanya keluar rumah pada saat tertentu, yakni pagi dan malam hari. Keperluannya pun selalu sama. Datang ke salah satu minimarket dekat rumah dan bertemu orang asing.

"Pasti kalau ketemu orang di minimarket, (pelaku) pulang bawa buntelan kantong plastik hitam. Kita enggak kenal orang-orang yang ditemui Dian. Padahal, tiap datang, dia (pelaku) enggak masuk ke minimarket untuk belanja," terang Aryani, warga lainnya.

Diakui pula, sebelum adanya penangkapan, banyak kejanggalan yang terjadi di sekitar Perumnas Suradita. Aryani mencontohkan, keberadaan seorang pedagang nasi goreng keliling yang terus mangkal di dekat rumah pelaku.

Bahkan ada salah satu warga yang sempat melihat pedagang nasi goreng tersebut menyembunyikan sebuah senjata laras panjang. "Pernah ada ibu-ibu yang melihat pedagang nasi goreng itu bawa senjata. Kalau setahu saya, yang biasa nongkrong di pos ronda orang baru ngontrak dekat sini. Dia bikin pos ronda dadakan. Padahal disini sudah ada pos ronda, malah lebih bagus, sudah dicor," tambahnya.

Berdasarkan pantauan, Senin (22/2) siang, aktivitas di kediaman Dian Apriana terlihat sepi. Pascapenggerebekan, keluarga pelaku memilih untuk mengungsi ke kediaman kerabatnya yang berada tak jauh dari lokasi. Sempat terlihat seorang wanita bercadar yang diduga sebagai istri Dian tampak membersihkan rumah, lalu kemudian pergi lagi meninggalkan lokasi.

Rumah Dian Apriana di Perumnas Suradita, Jalan Ceremai 1 Nomor 15, Desa Suradita, Cisauk, Tangerang, Minggu (21/2) sekitar pukul 14.30 WIB digerebek Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri. Bersama penangkapan Dian, turut disita barang bukti berupa dokumen atau buku-buku jihad, panah dan anak busurnya, golok, solar sel, blackberry, serta sepucuk senapan angin. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya