Jeritan Pegawai Harian TPST Bantargebang

Gana Buana
22/2/2016 20:12
Jeritan Pegawai Harian TPST Bantargebang
(ANTARA/Risky Andrianto)

SEJUMLAH pegawai harian di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang milik DKI Jakarta menjerit. Sebab, mereka merasa upah yang diberikan pengelola dari TPST tersebut dianggap jauh dari layak.

Nur, 45, seorang pegawai lepas, mengatakan sehari dirinya yang bekerja sebagai petugas pengolahan pupuk kompos di kawasan TPST Bantargebang hanya diberikan upah Rp32 ribu. Upah tersebut dianggap tak bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

"Sekarang saja, beras seliter udah Rp9 ribu, belum lagi bayar kontrakan, anak sekolah, masih banyak lagi kebutuhan lain," ungkapnya, Senin (22/2).

Menurut dia, para pemilah sampah sudah mengajukan protes pada pihak pengelola. Bahkan, aksi demo pun sudah pernah dilakukan. Namun, aspirasi pegawai tak juga diindahkahkan pengelola TPST Bantargebang.

"Padahal kami hanya ingin naik Rp2.000 saja, tapi enggak didengar," jelasnya.

Nur mengaku, awalnya ia bekerja bersama dengan suaminya di tempat pengolahan sampah menjadi pupuk kompos tersebut. Namun, lantaran upah yang diberikan dianggap tak layak, suaminya memutuskan untuk berhenti.

"Kalau yang laki-laki mendingan kerja lain. Kalau saya daripada di rumah diam, enggak ada pekerjaan, ya mendingan kerja di sini," katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, jumlah pegawai harian di tempat pengolahan sampah milik PT Godang Tua Jaya tersebut mencapai 70 orang. Sebagian besar pekerja merupakan perempuan.

Tak sedikit mereka banyak yang tak masuk bekerja setiap harinya. Alasan yang tak masuk kerja, lantaran beban pekerjaan cukup berat. Setiap pegawai harus mengusung sampah menggunakan gerobak untuk dimasukkan ke dalam mesin pemilah.

"Bagi perempuan kan dorong gerobak ya berat. Makanya banyak yang engga kuat," jelasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya