Bingung, Pengungsi kembali Bangun Permukiman di Kampung Bandan

TH Suwarta/J-1
07/2/2016 05:15
Bingung, Pengungsi kembali Bangun Permukiman di Kampung Bandan
(ANTARA/Zaki Aulia)

BINGUNG. Itulah yang kini ada di benak 2.500 pengungsi korban kebakaran di RW 004 dan 005 Kampung Bandan, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, saat ini. Setelah rumah mereka ludes terbakar pada Rabu (27/1) lalu, bantuan dari pemerintah pun sudah dihentikan. Tidak hanya bantuan makanan, tenda pengungsian pun sudah dibongkar.

Hal itu disebabkan pemerintah hanya menetapkan masa tanggap darurat sampai Minggu (31/1) lalu. Warga yang sebelumnya ditampung di tenda-tenda pengungsian kini harus mengurus hidup mereka sendiri termasuk untuk mendapat hunian.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia kemarin, sejumlah warga memilih duduk-duduk di bedeng-bedeng sisa kebakaran, sebagian lagi sibuk merapikan puing-puing, dan sebagian lagi tengah membangun kembali bedeng tempat tinggal di lokasi bekas kebakaran.

Ada kurang lebih belasan bedeng panggung yang tengah dibangun dengan bahan yang terbuat dari tripleks dan papan-papan bekas. "Kita terpaksa bangun lagi di sini karena bingung mau ke mana lagi. Tidak ada uang untuk bayar kontrakan juga," kata Wahyu, salah seorang warga korban kebakaran.

Ia menyadari bedeng yang tengah dibangunnya kembali itu melanggar aturan karena dibangun di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia, seperti halnya bedeng lamanya yang telah habis terbakar. "Namun mau bagaimana lagi? Saya sekeluarga tak punya tempat tinggal. PT KAI juga sepertinya membolehkan. Buktinya sudah beberapa hari ini kami membangun bedeng, tidak ada yang melarang," terang Wahyu.

Ia melanjutkan, selain warga yang berusaha membangun kembali bedengnya, sebagian lagi mengontrak di daerah Kebon Sayur yang berada tidak jauh dari lokasi kebakaran. "Banyak juga yang sudah pulang kampung. Habis tidak ada kejelasan soal nasib kami sampai saat ini," jelas Wahyu yang sehari-harinya mengais rezeki dari usaha memulung barang bekas tersebut.

Kebingungan yang sama juga dialami Servina, 26. Perempuan asal Cirebon, Jawa Barat, yang tengah hamil tua itu sadar betul tak bisa selamanya berada di tenda pengungsian. Namun, mendapat tempat tinggal yang baru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

"Suami saya cuma kuli bangunan. Mau bangun bedeng lagi, nanti digusur PT KAI. Mau tinggal di rumah kontrakan, tidak cukup uangnya. Rumah kontrakan sekarang Rp500 ribu per bulan. Suami saya mampunya cuma Rp200 ribu per bulan," kata Servina sambil mengelus-elus perutnya.

Saat dihubungi di kesempatan terpisah, Lurah Ancol Sumpeno mengaku masih menunggu jawaban dari Pemprov DKI Jakarta perihal nasib korban kebakaran itu. "Yang pasti kita sudah bersurat ke provinsi dan sampai sekarang masih menunggu arahan selanjutnya. Kalau mau dipindahkan ke rumah susun, sebagian besar warga di sini tidak punya KTP DKI Jakarta. Tapi yang pasti akan ada solusinya," pungkas Sumpeno.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya