Tangsel Darurat Wabah DBD

Deni Aryanto
01/2/2016 21:13
Tangsel Darurat Wabah DBD
(ANTARA FOTO/Ampelsa)

Memasuki musim penghujan, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) darurat demam berdarah dengue (DBD). Dalam sebulan, 108 warga terjangkit dan satu orang hingga meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Tulus Muladiyono mengatakan, periode Januari dan Februari tiap tahunnya rawan berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti. Bahkan di bulan tersebut, siklus DBD terus naik angkanya.

Untuk itu, warga diingatkan agar terus menjaga kebersihan lingkungan rumah masing-masing. "Januari sudah ada 108 orang terkapar mendapat perawatan medis. Satu orang meninggal dunia," terang Tulus, Senin (1/2).

Dijelaskannya, perkembangan virus DBD terjadi akibat adanya perubahan musim. Siklusnya terjadi saat musim kemarau beralih, untuk kemudian diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Presentasenya baru akan turun pada Maret, seiring berkurangnya musim penghujan.

"Saat ini kan sedang transisi, dari musim panas ke musim hujan. Memang dari tahun ke tahun seperti itu," ujarnya.

Terkait adanya pasien DBD yang meninggal dunia, ia mengaku hal itu bisa terjadi lantaran pihak keluarga pasien terlambat menolong korban. Karenanya, ia menyarankan agar masyarakat responsif dan waspada jika anggota keluarganya menderita sakit dengan gejala mirip DBD.

Berdasarkan pantauan, semua wilayah kecamatan di Kota Tangsel rawan peredaran DBD. Fakta tersebut terihat lewat kasus yang telah terjadi. Dari 108 pasien terdeteksi penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti itu merata di seluruh kecamatan.

"(Korban) di tiap kecamatan ada, dengan jumlah yang merata. Koordinasi akan terus dilakukan ke tiap puskesmas," papar Tulus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Suharno menambahkan, memasuki siklus perubahan musim cuaca sangat rawan wabah penyebaran penyakit DBD. "Early warning (peringatan dini) mutlak diperlukan untuk menghindari bertambahnya jumlah penderita? DBD," kata Suharno.

Langkah lain yang dilakukan Dinkes, kata Suharno, yakni dengan sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk, kegiatan bersih lingkungan, pemberian abate kepada masyarakat. Sedangkan fogging atau pengasapan, merupakan langkah terakhir yang bisa dilakukan.

"Kita sudah lakukan fogging di sejumlah tempat. Itu (fogging) melalui investigasi dan observasi wilayah. Observasi jentik nyamuk juga dilakukan oleh kader Jumantik yang sudah ada 900 orang tersebar di tiap kelurahan," tutupnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya