Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pengungsi korban kebakaran di RW 004 dan RW 005 Kampung Bandan, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, kini sedang pusing tujuh keliling.
Bagaimana tidak, dari total pengungsi yang berjumlah 2.500 jiwa, pemerintah setempat hanya menyediakan dua fasilitas mandi cuci kakus (MCK). Alhasil, antrean di pagi hari untuk urusan 'ke belakang' pun tak terhindarkan.
Salah seorang pengungsi, Jumadi, 33, misalnya, mengaku harus menahan diri untuk tidak mandi selama tiga hari terakhir karena sulitnya mendapatkan fasilitas MCK yang memadai.
Di tempatnya mengungsi, di pinggir rel kereta api, hanya disiapkan dua mobil MCK milik sudin kebersihan. Fasilitas itu pun tidak memadai buat memenuhi kebutuhan buang hajat para pengungsi.
Selain tidak dilengkapi lampu buat penerangan di malam hari, air keran di MCK itu kerap mati.
"Belum lagi saluran buangannya yang mampat, jadi bikin jijik. Para pengungsi akhirnya buang air kecil sembarangan saja," keluh Jumadi yang saat ditemui kemarin siang tengah berkipas-kipas dengan koran lipatnya.
Ia kepanasan karena tenda darurat yang dibangunnya hanya beratapkan kain sarung.
"Lebih banyak ibu-ibu yang pakai MCK itu karena malu kalau buang air sembarangan," kata Jumadi terkekeh.
Untuk urusan mandi, sambungnya, para pengungsi menggunakan kamar mandi milik warga di permukiman yang tidak kena bencana kebakaran. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari lokasi pengungsian.
Namun, masalah tidak berhenti di situ, karena para tetangga mereka mematok tarif yang dinilai cukup mahal bagi pengungsi yang mau mandi.
Bagi Jumadi, istri, dan anak-anaknya, menggunakan kamar mandi milik warga menjadi pilihan yang tak terelakkan meski harus merogoh kocek lebih dalam. Kalau selama ini ia cukup membayar Rp1.000 untuk 'paket' mandi dan buang air besar, saat musibah itu, pemilik kamar mandi menaikkan tarif jadi Rp3.000 per orang.
Tarif 'paket' itu, kata dia, belum termasuk kebutuhan mencuci yang dipatok tarif Rp20 ribu sekali cuci.
"Sepertinya mereka memanfaatkan momentum musibah ini. Kita lagi susah malah dipalak uang MCK," protes Jumadi.
Sementara itu, Leni, 50, petugas yang menjaga kamar mandi umum itu mengatakan penaikan tarif MCK itu dilakukan untuk menutupi biaya operasional.
Hal yang pasti, ujarnya, kamar mandi yang dikelolanya lebih bersih. "Di sini airnya berlimpah, ada lampu, lantainya pun pakai keramik. Wajar kan kalau tarifnya naik?" ujar Leni. (TH Suwarta/J-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved