Kuasa Hukum Jessica Tuding Proses Pemeriksaan Penuh Intimidasi

Golda
01/2/2016 15:59
Kuasa Hukum Jessica Tuding Proses Pemeriksaan Penuh Intimidasi
(MI/RAMDANI)

Kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, 27, Yudi Wibowo mengatakan proses pemeriksaan terhadap kliennya terkesan penuh intimidasi. Penyidik selalu memaksa Jessica, tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, 27, untuk mengaku sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

"Dia (Jessica) dipaksa untuk mengaku. Kalau mengaku hukumannya ringan dan kalau tidak ngaku hukumannya berat, 20 tahun atau hukuman mati," ujar Yudi.

Penyidik juga dipandang tidak mengantongi alat bukti yang cukup, namun malah menetapkan Jessica sebagai tersangka dan kemudian melakukan penahanan. Ia berharap penyidik profesional dengan membeberkan semua bukti dan bukan hanya berpatok pada asumsi yang tidak valid.

"Saya konsisten, perbuatan harus dibuktikan. Ada saksi atau bendanya, sianida. Kalau orang berbuat jahat pasti ada jejaknya dan tidak hilang barang buktinya. Jangan mengambil kesimpulan karena keterangan dari hipnoterapi atau psikolog, tapi harusnya ahli pidana," katanya.

Lebih jauh, terang dia, pihak keluarga tersangka tidak akan mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan. Alasannya karena kasus pembunuhan tersebut sudah menjadi sorotan publik dan pasti tidak akan dikabulkan penyidik.

"Kita akan menunggu saja dari jaksa. Kalau jaksa menilai bukti tidak kuat disidangkan, mungkin akan ditolak. Jaksa juga tidak mungkin mencari kambing hitam, sedangkan polisi berbuat lempar bom sembunyi tangan. Namun kalau jaksa katakan P-21 (berkas sempurna), mari kita buktikan di pengadilan," ujar Yudi.

Pendapat serupa juga dilontarkan peneliti hukum dan pakar viktimologi Universitas Indonesia (UI) Heru Susetyo dan krimonolog Reza Indra Giri dalam sebuah diskusi di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat.

Heru mengatakan, kasus kopi beracun seperti drama dan penetapan Jessica sebagai tersangka juga dinilai tergesa-gesa. "Jangan sampai hanya untuk mengakomodasi keinginan masyarakat," terang dia.

Adapun Reza mengaku belum yakin jika Jessica adalah otak pembunuhan Mirna. Ia pun menganggap kasus tersebut salah sasaran.

"Saya tidak yakin ini pembunuhan yang mengincar korban sesungguhnya. Perencanaan dilakukan rapi, tetapi kacau setelah pelaksanaan. Sangat tidak sebanding alat kejahatan yang digunakan dengan korban yang dituju," tandasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya