Ditemukan Meninggal Dibakar, Kepsek: Kamis, AAP Terakhir Sekolah

M Rodhi Aulia
27/10/2015 00:00
Ditemukan Meninggal Dibakar, Kepsek: Kamis, AAP Terakhir Sekolah
(Ilustrasi)
KEPALA Madrasah Tsanawiyah Al Mubarok Jakarta Muslih mengatakan siswinya, AAP,12, terakhir masuk sekolah, Kamis (22/10) pekan lalu. Muslih mengaku tidak ada yang janggal dengan hari terakhir tersebut.

Muslih menuturkan seperti biasa kegiatan belajar dan mengajar dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 13.00 WIB. Semua siswa menggunakan seragam batik corak hijau dan celana atau rok putih. Kebetulan, AAP saat itu menggunakan rok berwarna biru. Muslih menduga rok putih milik AAP kotor.

Keesokan harinya, Jumat, 23 Oktober, orang tua AAP dan kakaknya datang ke sekolah. Keluarga korban tersebut bermaksud ingin mengonfirmasi terkait keberadaan AAP yang sejak Kamis malam tidak kembali ke rumah.

"Ternyata anaknya juga enggak masuk sekolah (Jumat). Saya tidak tahu dia ke mana. Karena kalau anak sudah pulang dari sekolah, itu sudah menjadi tanggung jawab pihak keluarga. Cuma informasi itu saja dari saya," kata Muslih di MTS Al Mubarok, Jalan Walahar, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/10).

Muslih mengaku kaget dengan kabar siswinya yang dikabarkan hilang tersebut. Pasalnya, siswinya itu pulang ke rumah dengan sejumlah teman yang kebetulan satu gang dengan rumah korban.

"Anaknya baik. Biasa bercanda sama teman-temannya. Enggak ada masalah. Tidak ada musuh juga," ujar dia.

Meski demikian, Muslih mengatakan pihaknya sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian dari Tanah Abang dan Bogor. Di samping memberikan informasi yang ia ketahui, tim penyidik juga meminta keterangan dari teman sebangku AAP, teman sekelas dan teman sepergaulan.

"AAP baru masuk tahun ajaran baru kemarin. Sekarang kelas VII atau kelas 1 MTs," tukas dia.

Swastika, Wali Kelas AAP, menambahkan, siswinya itu dikenal baik dan cukup baik dalam akademik. Selama dua bulan terakhir, AAP cukup menonjol dalam mata pelajaran umum, seperti Matematika dan IPS. Namun kalau mata pelajaran agama, Swastika menilai AAP lemah.

"Seperti ada mata pelajaran hafalan, dia enggak hafal dan dia enggak masuk sekolah," ujar dia.

Sementara itu, Gariani,45, ibu AAP, mengaku tidak bertemu langsung dengan anaknya pada Kamis tersebut lantaran sedang bekerja. Namun, kata dia, AAP sempat pulang ke rumah dengan menaruh tasnya. Kemudian ia mengganti sepatunya dan pergi dengan kondisi masih berseragam sekolah.

"Biasanya pulang sekolah, dia main di sekitar rumah, dengan teman-temannya. Banyak temannya, di sekitar Rumah Susun Karet Tengsin, seumuran dengan dia. Bahkan banyak yang masih SD," ujar dia.

AAP ditemukan tewas di areal Perhutani RPH Tenjo, Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10). AAP ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Wajahnya tampak seperti luka bakar dan berdasarkan hasil autopsi tim medis RS Polri Kramatjati, AAP juga disetubuhi sebelum dibunuh.

Keluarga dan kerabat meyakini bahwa korban adalah AAP dilihat dari sepotong batik, yang sempat dibakar dan juga kawat gigi korban.

Gariani mendesak pihak kepolisian untuk menemukan pelaku pembunuh anaknya. Garniani sangat berharap melihat wajah pelaku.

"Harapan saya polisi segera menemukan pelaku dan dihukum seberat mungkin.

Tapi, satu yang saya inginkan. Saya ingin melihat orangnya dulu. Saya ingin ketemu dengan pelaku melihat wajahnya," kata Gariani di rumahnya.

Wajah Gariani tampak muram dan sembab. Sesekali, air matanya berlinang.

Gariani tidak menyangka anaknya main sampai ke luar kota. Sebab, selama ini, anaknya hanya bermain di sekitar rumah dan tidak pernah jauh. Garniani mengakui anaknya memiliki banyak teman, termasuk laki-laki.

Gariani menduga anaknya menjadi korban penculikan. Gariani menyatakan, anaknya tidak memiliki hubungan spesial dengan anak laki-laki lain.

"Saya yakin ini pasti ada yang membawa dia sampai ke sana. Dia diculik," tandas dia. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya