Damai di Suriah kian Pupus

24/2/2017 06:20
Damai di Suriah kian Pupus
(AFP)

PERUNDINGAN damai Suriah yang dimotori PBB untuk keempat kalinya dilanjutkan di Jenewa, Kamis (23/2), 10 bulan setelah perundingan terakhir.

Namun, pembicaraan tersebut terlihat suram karena tertutup oleh kekerasan yang terus-menerus dan kebuntuan masa depan politik Suriah.

Dalam perbincangan kali ini, Rusia meminta Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk menghentikan kampanye pengeboman selama perundingan berlangsung.

Akan tetapi, utusan PBB Staffan de Mistura mengakui ada keterbatasan untuk mencapai perdamaian.

"Apakah saya mengharapkan terobosan? Tidak, saya tidak mengharapkan terobosan," kata diplomat veteran yang mencatat pembicaraan lebih lanjut merupakan harapan terbaik yang bisa dilakukan.

Sebelumnya, De Mistura menyebut pembicaraan akan fokus untuk transisi politik yang secara tersirat menghapus kekuasaan Assad.

Perubahan kepemimpinan AS diakuinya menjadi ketidakpastian baru dalam proses perdamaian.

"Saya tidak mengkritik. Saya tidak mengeluh," kata dia.

Selama tiga putaran pembicaraan sebelumnya di Jenewa pada tahun lalu, kedua pihak tidak pernah duduk di meja yang sama.

De Mistura menjadi penghubung komunikasi mereka.

Kali ini, De Mistura berharap berhasil membawa kedua pihak melakukan pembicaraan langsung. Namun, dia enggan mengungkapkan prospek ke depan.

Delegasi pemerintah dipimpin Duta PBB untuk Suriah Bashar al-Jaafari, sedangkan oposisi utama Komite Tinggi Negosiasi (HNC) dipimpin Kardiologis Nasr al-Hariri dan pengacara Mohammad Sabra.

Juru bicara HNC Salem al-Meslet mengatakan mereka ingin berdiskusi langsung dengan perwakilan pemerintah.

"Kami meminta negosiasi langsung. Ini akan menghemat waktu dan menjadi bukti keseriusan, bukan negosiasi di (terpisah) kamar," kata dia.

Penguasaan lahan, baik dalam wilayah maupun diplomatis, telah bergeser sejak pembicaraan terakhir bersama PBB pada April 2016 dengan pemberontak dalam posisi lebih lemah secara signifikan.

telah merebut kembali benteng pemberontak di Aleppo Timur dan Amerika Serikat, yang sebelumnya menentang Assad.

Mereka mengungkapkan tengah meninjau ulang kebijakan terkait dengan Suriah.

Gencatan senjata terbaru terjadi pada akhir Desember oleh pendukung oposisi Turki dan rezim pendukung Rusia menjelang perundingan terpisah yang melibatkan Iran di Kazakhstan.

Kesepakatan itu mengurangi kekerasan, tapi pertempuran berkobar lagi minggu ini sebelum pembicaraan damai, termasuk kampanye pengeboman pemerintah atas wilayah pemberontak di sekitar Damaskus.

HNC menuduh Assad mengirim 'pesan berdarah'. (AFP/AlJazeera/Ire/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya